Mufakat Kanjeng Sinuhun (5): Perempuan Misterius

Mufakat Kanjeng Sinuhun (5): Perempuan Misterius

Dari penuturan Pariaman, kepala Desa Titik Jauh, ada sosok perempuan yang juga sering mendatangi para pemilik tanah di desanya. Bukan dari kalangan aparat pemangku kota. Juga bukan sinuhun. Siapa dia? Apakah juga terlibat dalam proyek kongkalikong proyek perluasan lahan pertanian itu?

----------------

MUFAKAT KANJENG SINUHUN - Sisir warna abu itu tak bisa lagi digunakan. Bagi Anita Rossy rasanya terlalu rapat jaraknya. Rambutnya yang sebahu itu kerap rontok. Selalu saja ada yang tercabut ketika menggunakannya. Usianya yang sudah menginjak kepala lima itu, tak bisa lagi dimungkiri. Anita butuh sisir yang jaraknya tidak terlalu rapat.

Perempuan yang tinggal sebatangkara itu, membuka laci lemari. Baru sehari lalu membeli sisir baru. Kemudian dicobanya. Ya, aman. Rambutnya tidak terlalu banyak yang tercabut— gumamnya.

Ia pun melirik bahu kanan dan kirinya. Pada daster warna putih yang ia kenakan. Hanya ada sehelai rambut saja yang menempel. Sisir barunya itu benar-benar mengurangi kerontokan secara efektif.

“Bu, ada tamu,” panggilan itu membuyarkan Anita. Bi Imeh mengetuk kamar Anita.

Ia pun segera merapikan rambutnya. Hanya Bi Imeh yang sehari-harinya membantu Anita. Pagi hingga sore. Bi Imeh biasa memasak dan membersihkan rumah. Meski Anita tinggal sendirian. Namun ia sering bepergian. Urusan bisnis. Nah, Bi Imeh lah yang membantu menjaga rumah.

Anita sebetulnya punya seorang putra. Tapi sudah tinggal sendiri. Dan sudah berkeluarga. Tinggalnya di luar Kota Ulin. Dari pernikah putranya itu, Anita dikaruniai dua orang cucu. Yang masih lucu-lucunya. Sekali dalam sebulan, Anita biasa menengok cucunya itu. Namun, ia tidak bisa tinggal berlama-lama. Urusan bisnis.

Dulu, Anita Rossy punya lapak kelontongan di pasar tradisional Kota Ulin. Tak jauh dari rumahnya. Hanya butuh waktu 5 menit mengendarai sepeda motor. Namun kini sudah dijualnya. Belakangan ia lebih sering meminjamkan uang kepada para pedagang lain. Tentunya dengan embel-embel bunga. Untungnya lebih besar ketimbang Anita berjualan kelontongan. Itulah kenapa lapak itu ia jual. Selain tak ada yang membantunya menjaga lapaknya itu.

Kini, Anita punya bisnis yang lebih besar. Dengan penghasilan yang juga lebih besar. Ia kerap diminta bantuan oleh para petinggi Kota Ulin. Untuk membantu melancarkan program mereka. Kemampuan komunikasi Anita memang baik. Pengalaman sebagai pedagang dan lintah darat membuatnya mampu merayu dan bernegosiasi dengan baik.

“Siapa bi Imeh?,” tanya Anita.

Sinuhun Ucok, sudah ada di ruang tamu”.

Anita segera keluar kamarnya. Menuju ruang tamu. Ucok tampak sendirian. Ia mengenakan kaus berkerah warna putih. Pecinya ia lepas. Diletakkan di atas meja.

“Eh, lama sekali. Besolek terus,” sapa Ucok.

“Sudah tua begini, siapa yang mau,” seloroh Anita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: