PENAJAM PASER UTARA, NOMORSATUKALTIM - Menghadapi ancaman kekeringan dan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kian meningkat, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) bersama masyarakat menggelar Salat Istisqa di halaman Polres PPU.
Kegiatan spiritual ini dilaksanakan bertepatan dengan Apel Gelar Pasukan 3 Pilar Siaga Bencana Karhutla 2026, pada Selasa, 1 September 2026.
Upaya ini dilakukan dalam menanggulangi bencana secara holistik, memadukan ikhtiar teknis di lapangan dengan doa bersama.
Bupati PPU, Mudyat Noor mengatakan, penanganan karhutla membutuhkan sinergi kuat dari semua lini. Dampak kebakaran tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan dan perekonomian warga.
BACA JUGA: Dikepung Kabut Asap, Kualitas Udara PPU Menyentuh Angka 72, Masuk Kategori Sedang
BACA JUGA: Dampak Kemarau, 223 Hektare Sawah di Kabupaten PPU Kekeringan
“Apel ini bentuk kesiapsiagaan kita. Namun, menjaga lingkungan dan mencegah karhutla bukan cuma tugas pemerintah, TNI, dan Polri, melainkan tanggung jawab kita bersama. Mari bangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga kehidupan,” ucapnya.
Ia menginstruksikan, seluruh unsur 3 pilar, pemerintah daerah, TNI, dan Polri untuk memperkuat koordinasi hingga tingkat desa dan kelurahan, serta memastikan personel dan sarana prasarana selalu siap siaga.
Hal senada disampaikan Kapolres PPU, AKBP Andreas Alek Danantara. Menurutnya, penanganan bencana di musim kemarau tidak bisa dilakukan secara parsial.
“Doa adalah ikhtiar batin, tetapi harus diwujudkan lewat aksi nyata di lapangan. Sinergi lintas instansi dan peran aktif masyarakat adalah kunci utama untuk mendeteksi serta merespons titik api sejak dini,” ucapnya.
BACA JUGA: 147 Penerbangan Terdampak Asap Karhutla, Jarak Pandang di Long Apung Kaltara Cuma 100 Meter
BACA JUGA: Kadar Klorida Sungai Mahakam Naik, Samarinda Masuk Status Siaga Kekeringan
Salat Istisqa dipimpin oleh Ketua MUI Kabupaten PPU, H Abu Hasan Mubarak.
Dalam tausiahnya, ia mengingatkan, jamaah bahwa musibah kemarau panjang harus dijadikan momentum untuk bertobat, memperbanyak istigfar, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Mengutip pelajaran dari kisah Nabi Nuh AS, Abu Hasan menekankan bahwa doa memohon hujan harus diiringi dengan perubahan perilaku dan kepedulian terhadap alam.