Bankaltimtara

Kadar Klorida Sungai Mahakam Naik, Samarinda Masuk Status Siaga Kekeringan

Kadar Klorida Sungai Mahakam Naik, Samarinda Masuk Status Siaga Kekeringan

Kadar klorida Sungai Mahakam terpantau meningkat seiring dengan kemarau yang masih berlanjut.-(Disway Kaltim/ Ari Rachiem)-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah menetapkan situasi darurat kekeringan dan kemarau hingga 7 September 2026, menyusul kondisi sejumlah wilayah yang mulai terdampak intrusi air laut serta meningkatnya kadar klorida pada sumber air baku Perumdam Tirta Kencana.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun mengatakan kondisi tersebut membuat pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap ketersediaan air bersih, terutama di wilayah Palaran, Bantuas, Bukuan, dan Pulau Atas yang mulai merasakan dampak intrusi air laut dari Sungai Mahakam.

“Kalau air terintrusi air laut, dan kloridanya naik pada 250 ppm, maka intake produksi kita stop demi untuk menjaga kesehatan masyarakat,” kata Andi Harun, pada Senin (31/8/1016).

Andi Harun menjelaskan, Pemkot Samarinda menetapkan status darurat kekeringan selama 14 hari sebagai langkah menghadapi kondisi cuaca kering yang masih berlangsung. Status tersebut akan dievaluasi kembali dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi di lapangan.

BACA JUGA: Hujan Tipis Belum Akhiri Kemarau di Samarinda: Lahan Kering, Sumber Air Menyusut

BACA JUGA: Air Baku PDAM Tertekan El Nino, Wawali Samarinda Minta Pantau Ketat Intrusi Air Laut

Menurutnya, Samarinda memiliki empat level kondisi kekeringan yang menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah penanganan, yakni normal, waspada, siaga, dan kritis.

Saat ini, kondisi Samarinda telah melewati level normal dan berada pada fase transisi dari waspada menuju siaga. Bahkan, pemerintah mulai menetapkan kondisi tersebut sebagai siaga karena kebutuhan air bersih menjadi perhatian utama.

Andi Harun mengatakan salah satu persoalan yang perlu diantisipasi adalah perubahan kadar klorida pada air baku yang digunakan untuk produksi air bersih. Ketika kadar tersebut meningkat melewati ambang batas, intake harus dihentikan sementara untuk menjaga kualitas air yang diproduksi.

Untuk mengantisipasi perubahan tersebut, Pemkot Samarinda bersama Perumdam Tirta Kencana melakukan pemantauan kadar klorida secara berkala. Pemeriksaan dilakukan lebih intensif ketika kondisi air Sungai Mahakam menunjukkan peningkatan kadar garam akibat intrusi air laut.

BACA JUGA: Kasus ISPA di Samarinda Naik 22,8 Persen, Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

BACA JUGA: Operasional 3 IPA Samarinda Dikurangi, Palaran hingga Pulau Atas Terdampak Krisis Air

“Pokoknya setiap jam kita tes lagi, supaya pada saat kloridanya turun mesinnya kita hidupkan lagi untuk produksi air,” kata Andi Harun.

Menurutnya, kondisi kadar klorida dalam beberapa hari terakhir sempat membaik setelah hujan turun di wilayah hulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Aliran air dari kawasan hulu menuju Samarinda turut membantu menurunkan kadar klorida di Sungai Mahakam.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: