Tiyo mungkin salah memilih gaya. Tetapi respons yang membesar-besarkan perkara itu justru membuka borok yang lebih serius, yaitu lemahnya daya bedah sebagian elite gerakan terhadap relasi antara kekuasaan, moralitas, dan kebebasan publik.
Ketika nama kucing dianggap ancaman martabat bangsa, sementara dugaan korupsi program triliunan hanya dibahas dalam bahasa evaluatif yang aman, maka yang sedang sakit bukan hanya logika satu-dua orang. Yang sedang sakit adalah orientasi moral gerakan.
BACA JUGA:Realita Literasi Kukar Terungkap, Antara Harapan dan Fakta Pahit
Republik ini tidak membutuhkan aktivis yang alergi pada ejekan terhadap presiden. Republik ini membutuhkan aktivis yang alergi pada korupsi, manipulasi anggaran, pembungkaman kritik, dan penyalahgunaan program rakyat. Presiden tidak perlu disakralkan. Yang perlu dijaga adalah konstitusi, akuntabilitas, dan hak rakyat untuk mengawasi kekuasaan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah nama kucing itu pantas atau tidak. Persoalannya adalah mengapa sebagian orang begitu cepat marah pada simbol, tetapi lambat murka pada korupsi.
Bila gerakan mahasiswa Kristen ingin tetap relevan, ia harus memilih, yaitu apakah menjadi suara kenabian yang menggugat kekuasaan, atau menjadi penjaga etika semu yang sibuk memoles wajah penguasa ketika rakyat sedang menanggung akibat dari kebijakan yang rusak.
Martabat republik tidak runtuh karena presiden diejek. Martabat republik runtuh ketika korupsi dinormalisasi, kritik dibungkam, dan organisasi gerakan kehilangan keberanian untuk berpihak pada kebenaran. (*)