SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM — Seekor sapi Brahman Cross berbobot 1 ton 70 kilogram milik peternak Kalimantan Timur terpilih menjadi hewan kurban Presiden Prabowo Subianto untuk Iduladha 2026.
Sapi tersebut telah melalui proses pemeliharaan intensif selama sekitar satu tahun hingga akhirnya dinobatkan sebagai sapi terbaik dari kandang peternak lokal.
Sapi bernama Bejo milik Ketua Asosiasi Peternak dan Penggemuk Sapi Indonesia Borneo, Mujianto, tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena kandangnya kembali dipercaya menyediakan hewan kurban presiden selama empat tahun berturut-turut, sekaligus memperlihatkan kemampuan peternak daerah menghasilkan sapi berbobot jumbo dengan kualitas unggulan.
“Alhamdulillah di tahun 2026 ini saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Prabowo Subianto dan Dinas Peternakan Provinsi yang telah memilih sapi terbaik di kandang kami untuk kurban bapak presiden,” ujar Mujianto pada Senin 25 Mei 2026.
Mujianto menjelaskan pencapaian itu memiliki makna besar karena proses menghasilkan sapi jumbo membutuhkan kesabaran panjang, perhatian khusus, serta konsistensi dalam menjaga kualitas perawatan dari hari ke hari.
“Yang jelas membutuhkan perawatan khusus. Dari kebersihan, kesehatannya, pola makannya, dan kita usahakan supaya sapi itu nyaman,” katanya.
BACA JUGA:Hidden Cries Borneo, Film Dokumenter Perdana Fisipers Soroti Kekerasan Terhadap Anak
Menurutnya, pengetahuan tentang sistem penggemukan modern diperoleh ketika mengikuti pembelajaran peternakan di Australia beberapa tahun lalu, setelah mendapat kesempatan belajar melalui bantuan seorang kepala daerah di Jawa Tengah.
Di negara Kangguru tersebut, Mujianto mempelajari pengelolaan peternakan skala besar dengan kapasitas hingga puluhan ribu ekor sapi, termasuk pola penggemukan yang memperhatikan nutrisi, kebersihan kandang, hingga manajemen kesehatan hewan secara menyeluruh.
“Alhamdulillah ilmunya bermanfaat sampai sekarang,” tuturnya.
Pengalaman itu kemudian diterapkan di kandang miliknya di Kalimantan Timur melalui kombinasi sistem pakan fermentasi dan konsentrat yang dirancang untuk mempercepat pertumbuhan sapi sekaligus menjaga kesehatannya tetap optimal.
Mujianto mengatakan Bejo awalnya memiliki bobot sekitar 900 kilogram ketika mulai dirawat secara intensif, lalu bertambah hingga lebih dari satu ton dalam waktu sekitar setahun melalui pola pakan dan pengawasan rutin.
“Yang paling menentukan itu kualitas pakannya, karena kalau makan bagus tentu pertumbuhannya juga bagus,” ujarnya.
BACA JUGA:FISIPERS Kampanyekan Perlindungan Anak di SDN 006
Ia menjelaskan konsentrat yang diberikan kepada sapi terdiri dari berbagai bahan seperti bungkil sawit, gaplek, roti, dedak, premiks, hingga kulit kopi yang dicampur secara khusus lalu diuji laboratorium guna mengetahui kandungan protein dan nutrisi.