Bankaltimtara

Sapi Kurban Melimpah, Ekonom Duga Daya Beli Masyarakat yang Melemah Jadi Penyebabnya

Sapi Kurban Melimpah, Ekonom Duga Daya Beli Masyarakat yang Melemah Jadi Penyebabnya

Ekonom Universitas Mulawarman, Purwadi.-istimewa-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM Ketersediaan sapi kurban di Samarinda menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah disebut melimpah hingga melebihi kebutuhan masyarakat, bahkan ribuan ekor hewan kurban diperkirakan masih belum terserap diduga karena lemahnya daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Samarinda memperkirakan kebutuhan sapi kurban masyarakat pada momentum Iduladha tahun ini berada di kisaran 9 ribu ekor.

Sementara itu, jumlah hewan kurban yang masuk ke wilayah Samarinda telah mencapai sekitar 15.400 ekor sehingga menyisakan potensi surplus cukup besar.

Menurut pandangan Purwadi, Ekonom Universitas Mulawarman, kondisi kelebihan hewan kurban yang belum terjual bukan persoalan baru dan telah terjadi beberapa tahun terakhir, meski pada tahun ini situasinya dinilai semakin terlihat karena tekanan ekonomi yang memengaruhi kemampuan belanja masyarakat.

BACA JUGA:Berpotensi Ekspor, DKP Kukar Mulai Uji Coba Budidaya Kerapu Cantang di Anggana

“Kelebihan hewan kurban yang belum terjual hampir 7 ribu sampai 9 ribu ekor itu bukan peristiwa Iduladha hari ini saja, karena kondisi seperti ini sebenarnya sudah terjadi beberapa tahun lalu,” ujarnya, pada Jumat 29 Mei 2026.

Ia menjelaskan, penurunan daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor yang sangat memengaruhi rendahnya penyerapan sapi kurban, terlebih kelompok ekonomi menengah saat ini mengalami tekanan cukup besar.

“Harus diakui bahwa memang kondisi ekonomi sedang terjadi penurunan daya beli, dan itu juga diakui oleh banyak ekonom,” katanya.

Ia menilai, kelompok masyarakat menengah yang selama ini menjadi penyumbang utama pembelian hewan kurban mulai terdampak perubahan ekonomi sehingga kemampuan konsumsi ikut mengalami penyesuaian.

BACA JUGA:Perusahaan Berulang Kali Dapat Proper Merah, KNPI Kutim Minta Tindakan Nyata Pemerintah

“Pak Presiden sendiri juga menyampaikan dalam pidato bahwa jumlah kelompok menengah mengalami penurunan, sehingga itu tentu berdampak terhadap pola konsumsi masyarakat,” jelasnya.

Berdasarkan laporan Mandiri Institute bertajuk Demographic Insights: Dinamika Kelas Menengah di 2025 yang dirilis Februari 2026, jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia menyusut sekitar 1,2 juta jiwa, dari 47,9 juta jiwa pada 2024 menjadi 46,7 juta jiwa sepanjang 2025.

Penurunan tersebut membuat proporsi kelas menengah terhadap total populasi ikut turun dari 17,1 persen pada 2024 menjadi 16,6 persen pada tahun berikutnya.

Kondisi itu dinilai turut memengaruhi pola konsumsi rumah tangga, termasuk kemampuan masyarakat membeli hewan kurban saat Iduladha.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: