KUBAR, NOMORSATUKALTIM – Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Pemkab Kubar) menegaskan pentingnya transformasi sektor perpustakaan melalui inovasi dan kolaborasi, sebagai respons atas keterbatasan anggaran yang selama ini menjadi kendala utama dalam pengembangan layanan literasi.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kubar, Kamius Junaidi, menyampaikan bahwa tantangan fiskal tidak boleh menghambat peran strategis perpustakaan dalam pembangunan sumber daya manusia.
Menurutnya, perpustakaan harus mampu beradaptasi dengan kondisi yang ada, termasuk mencari terobosan baru di luar skema pembiayaan konvensional.
“Keterbatasan anggaran memang menjadi persoalan mendasar, tetapi ini tidak boleh membuat kita berhenti. Justru di sinilah pentingnya inovasi dan kreativitas dalam mengelola perpustakaan agar tetap relevan dan berdampak bagi masyarakat,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
BACA JUGA: Mayoritas Perpustakaan di Kutai Barat Tidak Terakreditasi, dari 380 Hanya 9 Dinilai Layak
BACA JUGA: Minim Fasilitas, Perpustakaan Daerah Kutim Sepi Pengunjung
Ia menekankan bahwa selama ini ketergantungan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) masih sangat tinggi. Padahal, peluang untuk mengakses sumber pendanaan alternatif sebenarnya terbuka luas, baik melalui kerja sama dengan sektor swasta, komunitas, maupun lembaga lainnya.
Namun demikian, ia mengakui bahwa keterbatasan kapasitas sumber daya manusia (SDM), khususnya pustakawan, masih menjadi tantangan tersendiri. Banyak pengelola perpustakaan yang belum memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam menjajaki model pendanaan yang lebih modern dan berkelanjutan.
“Kita perlu meningkatkan kemampuan pustakawan, tidak hanya dalam pengelolaan koleksi, tetapi juga dalam membangun jejaring dan mencari peluang kerja sama. Ini menjadi kunci untuk keluar dari ketergantungan anggaran,” tegasnya.
Lebih lanjut, Kamius menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam pengelolaan perpustakaan. Ia menilai, perpustakaan tidak lagi cukup hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi harus bertransformasi menjadi pusat pembelajaran yang aktif dan inklusif.
BACA JUGA: Kafe Literasi Hadir di Berau, Formula Baru Dispusip Dongkrak Kunjungan Perpustakaan
BACA JUGA: Dari Novel Populer hingga Wifi Gratis, Perpustakaan Balikpapan Jadi Tempat Favorit Anak Muda
Menurutnya, perpustakaan harus mampu menghadirkan program-program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, seperti kegiatan literasi berbasis komunitas, pelatihan keterampilan, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses informasi.
“Inovasi tidak selalu identik dengan anggaran besar. Yang dibutuhkan adalah kepekaan melihat kebutuhan masyarakat dan kemampuan menghadirkan solusi yang sederhana namun tepat sasaran,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa kolaborasi multipihak menjadi strategi penting dalam memperkuat peran perpustakaan. Keterlibatan dunia usaha, komunitas literasi, serta masyarakat luas dinilai dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mendukung pengembangan program.