"Yang kita periksa itu sampelnya, baik makanan, sampel bekas muntahan, bahan makanan, apakah ada bakteri yang menyebabkan makanan ini tidak layak dimakan,"terangnya.
Metode pemeriksaan juga mencakup kultur bakteri guna mengidentifikasi jenis mikroorganisme penyebab.
"Termasuk juga pemeriksaan itu di kultur, jadi bakteri itu kita bisa lihat jelas bakterinya apa. Biasanya antara tiga sampai empat hari hasilnya bisa kelihatan," ujarnya.
Selain itu, produk olahan yang disuplai pelaku UMKM, seperti puding, turut menjadi bagian dari investigasi.
BACA JUGA: SPPG APT Pranoto Kutai Timur Perketat Data Alergi Siswa, Cegah Keracunan MBG
"Nanti kita akan lihat juga hasilnya dari produk ini. Kita akan mencari bakteri patogen seperti streptococcus, E. coli, dan lainnya yang sering dihubungkan dengan keracunan," kata Jaya.
Ia menambahkan, setiap kasus keracunan memiliki masa inkubasi berbeda, tergantung jenis bakteri yang mengontaminasi makanan.
"Ada yang satu sampai delapan jam, ada yang 30 menit sampai 59 menit," jelasnya.
Di sisi lain, Dinkes Kaltim juga menyoroti aspek higienitas dapur penyedia MBG. Berdasarkan laporan sementara, sebagian besar SPPG di daerah telah mengantongi sertifikat laik higiene sanitasi, meski belum seluruhnya.
BACA JUGA: Pemkot Balikpapan Perketat Pengawasan di Dapur Umum, Antisipasi Potensi Keracunan Makanan
"Dari sekitar 100 yang ada itu hampir 70 persennya sudah ada sertifikatnya, sisanya masih dalam persiapan," ungkapnya.
Proses sertifikasi, lanjut dia, membutuhkan tahapan panjang karena harus memeriksa bahan makanan, sarana dapur, hingga tata cara pengolahan.
"Harus diperiksa dulu dari makanannya dan tata cara pembuatannya," tuturnya.
Jaya menegaskan, jika hasil investigasi menemukan adanya kontaminasi, maka evaluasi menyeluruh akan dilakukan sebelum layanan diaktifkan kembali.
BACA JUGA: Ironi Program Makan Bergizi Gratis: Anggaran Jumbo dan Keracunan Massal
"Kalau didapatkan memang terjadi kontaminasi dari proses pengolahan, bahan, prosedur masaknya termasuk distribusinya, kita akan koreksi agar tidak terjadi lagi," tegas Jaya.