Dari jumlah tersebut, sekitar 500 GW berada di wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Timur.
BACA JUGA: Co-Firing di PLTU Teluk Balikpapan, Transisi Energi atau Ancaman Ekologi?
BACA JUGA: Sekda Sri Wahyuni: Transisi Energi di Kaltim Sudah dari Dulu
Menurut Airlangga, potensi besar tersebut tidak secara otomatis dapat dimanfaatkan tanpa dukungan infrastruktur yang memadai. Salah satu kendala utama yang disorot adalah keterbatasan infrastruktur transmisi.
"Energi terbarukan tidak bisa disalurkan tanpa transmisi," tegas Airlangga, seraya menyinggung rencana pembangunan jaringan smart grid sepanjang 70.000 kilometer.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pengembangan potensi EBT di Kaltim masih perlu diimbangi dengan percepatan pembangunan infrastruktur transmisi.
Tanpa dukungan jaringan listrik yang memadai, proyek energi hijau berisiko sulit bergerak dan berdampak pada rendahnya penyerapan pendanaan JETP.
BACA JUGA: Ekspansi Tambang Silika Ancam Ekosistem Penting, Jatam Kaltim Desak Audit Perizinan
BACA JUGA: Disnakertrans Berau Terbitkan 5.997 Kartu Kuning Sepanjang Tahun 2025, Didominasi Sektor Tambang
Meski tidak merinci secara spesifik faktor penghambat serapan JETP, Airlangga menekankan pentingnya kesiapan proyek, regulasi, dan ekosistem industri dalam mendukung transisi energi.
Proyek energi terbarukan, jelas Airlangga, membutuhkan proses perizinan yang matang, kesiapan investor, serta kepastian skema pembiayaan agar dapat berjalan berkelanjutan.
Ia juga menyinggung perlunya pengembangan industri turunan batu bara di Kaltim untuk mengurangi ketergantungan impor LPG. Salah satu opsi yang didorong adalah pengembangan Dimethyl Ether (DME) sebagai substitusi LPG dan metanol.
Meski demikian, pengembangan industri turunan tersebut memerlukan investasi besar dan kepastian pasar. Tanpa hal tersebut, Kaltim berpotensi tetap berada pada posisi sebagai wilayah penambangan, bukan sebagai pusat pengembangan industri berbasis energi bersih.
BACA JUGA: BPK Temukan Lemahnya Pengawasan Tambang di Kaltim, Pemprov Janji Tindak Lanjut
BACA JUGA: KEK Maloy Masuk Radar Hilirisasi Non-Tambang Pemprov Kaltim
Dalam kesempatan yang sama, Airlangga memproyeksikan bahwa transisi hijau berpeluang menciptakan sekitar 4,4 juta lapangan kerja baru. Kendati demikian, peluang tersebut bergantung pada percepatan realisasi proyek-proyek transisi energi.