Bankaltimtara

APBN 2026 Terancam Defisit, Tertekan Harga Minyak Dunia yang Terus Naik

APBN 2026 Terancam Defisit, Tertekan Harga Minyak Dunia yang Terus Naik

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto-istimewa-

JAKARTA, NOMORSATUKALTIM - Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berpotensi tertekan oleh lonjakan harga minyak dunia.

Bahkan, defisit anggaran diprediksi melampaui batas 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Pemerintah pun menyiapkan sejumlah skenario untuk mengantisipasi dampak tersebut.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menjelaskan, dalam 10 bulan ke depan harga minyak global berpotensi melampaui asumsi Indonesian Crude Price (ICP) dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar USD70 dolar per barel.

Diketahui, dalam beberapa pekan terakhir, harga energi dunia melonjak karena dipicu oleh ketegangan geopolitik dan konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel di Timur Tengah.

BACA JUGA: Harga Minyak Dunia Tembus USD 100, Ekonom Minta Pemerintah Perketat Fiskal

“Pembelian (minyak) kita di bulan Januari–Februari itu angkanya 64,41 dolar Amerika dan 68,79 dolar Ameirka per barel. Ini realisasi, jadi masih di bawah asumsi APBN yang 70 dolar Amerika per barel,” kata Airlangga Hartarto, dikutip dari Beritasatu, Sabtu, 14 Maret 2026.

Namun, pemerintah memperkirakan harga minyak dapat meningkat dalam beberapa bulan mendatang apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut.

Airlangga Hartanto mengungkapkan, pemerintah telah menyiapkan 3 skenario terkait lonjakan harga minyak dunia.

Pertama, harga minyak diperkirakan rata-rata mencapai 90 dolar Amerika per barel dalam 5 bulan ke depan.

BACA JUGA: Purbaya Sebut APBN Masih Cukup Kuat Menahan Tekanan Harga Minyak Dunia yang Melonjak

Dalam kondisi ini, nilai tukar rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,3 persen.

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) diperkirakan meningkat hingga 6,8 persen. “Maka defisitnya adalah 3,18 persen,” ungkap Airlangga. Dengan asumsi tersebut, defisit anggaran berpotensi melewati batas aman.

Pada skenario moderat, harga minyak diperkirakan mencapai 97 dolar AS per barel dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp17.300 per dolar AS.

Dalam kondisi ini, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada di level 5,2 persen, sementara imbal hasil SBN naik hingga 7,2 persen.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: beritasatu

Berita Terkait