BACA JUGA:Disdag Samarinda Belum Bisa Pastikan Revitalisasi Pasar Segiri, Pedagang Diberi Waktu 2 Tahun
Selain itu, kendala teknis juga muncul pada sistem aplikasi CKG yang dikelola oleh pemerintah pusat. Ismed menyebut aplikasi tersebut kerap mengalami gangguan karena harus terintegrasi dengan berbagai program lain.
“Aplikasinya sering bermasalah karena sering maintenance. Ini juga sudah kami sampaikan langsung ke tim pusat yang datang ke Samarinda untuk mengevaluasi,” ucapnya.
Ismed menegaskan, Dinkes Samarinda tidak ingin hanya mengejar capaian angka semata tanpa memperhatikan kualitas pemeriksaan.
Ia mencontohkan, dalam pemeriksaan lansia terdapat delapan item yang seharusnya dilakukan, namun pada praktiknya aplikasi terkadang sudah menerima data meski pemeriksaan belum lengkap.
BACA JUGA:Pengelola Parkir Mie Gacoan Ahmad Yani Samarinda Sebut Kontribusi PAD Lewat Retribusi Daerah
“Kami tidak mau mengejar kuantitas kalau tidak sesuai standar. Misalnya lansia seharusnya delapan item pemeriksaan, tapi baru satu atau dua item sudah masuk di aplikasi. Ini yang perlu disinkronkan,” katanya.
Meski demikian, Ismed memastikan Dinkes Samarinda tetap berupaya maksimal meningkatkan capaian CKG, termasuk melalui strategi jemput bola ke masyarakat.
“Kami tidak diam. Upaya jemput bola terus dilakukan, tapi sekali lagi sangat bergantung pada SDM, bahan habis pakai, dan dukungan sistem,” pungkasnya.
Rahmat Pratama