“Kalau bicara orientasi seksual seperti gay, itu bisa memang bawaan dari lahir. Tetapi dari pergaulan, sekarang juga terlihat ada yang terbentuk karena lingkungan, misalnya satu kos lalu akhirnya melakukan hubungan homoseksual. Secara penampilan sehari-hari tampak biasa saja, itu karena faktor lingkungan,” tuturnya.
Selain faktor lingkungan pergaulan, Prof. Wimpie juga menyoroti pentingnya keharmonisan keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak, khususnya dari sisi psikologis.
Lingkungan rumah tangga yang tidak harmonis, penuh konflik, atau diwarnai kekerasan berpotensi meninggalkan trauma psikologis pada anak.
Pengalaman masa kecil yang negatif tersebut, lanjutnya, dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya dan orang lain, serta berpotensi menjadi pemicu munculnya perilaku menyimpang di kemudian hari.
“Mungkin waktu kecil anak itu melihat ayahnya melakukan kekerasan terhadap ibunya, sehingga timbul perasaan ‘aku harus membela ibu, aku sama dengan ibu’. Karena itu, dalam mendidik anak, keharmonisan keluarga harus benar-benar diperhatikan,” kata Prof. Wimpie.
Ia pun mengingatkan para orang tua agar menjaga sikap dan perilaku di hadapan anak, termasuk saat terjadi konflik dalam rumah tangga.
BACA JUGA:3 Kampung Jadi Sentra Pengembangan Hilirisasi Kakao Berau, Kerja Sama Disbun dan Diskoperindag
Pertengkaran terbuka di depan anak dinilai dapat berdampak buruk pada kondisi psikologis mereka.
Dengan pendidikan seksual yang tepat sejak dini, perhatian orang tua yang konsisten, serta lingkungan keluarga yang harmonis, Prof. Wimpie meyakini anak akan tumbuh dengan pemahaman yang sehat mengenai dirinya, sekaligus memiliki ketahanan mental dalam menghadapi pengaruh negatif dari lingkungan luar.
“Kalau mau bertengkar jangan di depan anak. Bisa masuk ke kamar, dikunci, baru bertengkar di dalam, supaya anak tidak melihat. Yang penting itu menjaga anak dalam masa pertumbuhannya agar berkembang secara normal, baik fisik maupun mental,” pungkasnya.
BACA JUGA:Pengelolaan Sampah Berbasis Warga Dinilai Tersendat, Wahyullah Soroti Antara Kebijakan dan Realitas