Waspada Preeklamsia pada Kehamilan, Dokter Ungkap Tiga Cara Pencegahan Sejak Dini
Waspada Preeklamsia pada Kehamilan, Dokter Ungkap Tiga Cara Pencegahan Sejak Dini-istimewa-
NOMORSATUKALTIM – Preeklamsia menjadi salah satu komplikasi kehamilan yang perlu diwaspadai karena berpotensi menimbulkan dampak serius bagi kesehatan ibu dan janin.
Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya tekanan darah setelah usia kehamilan memasuki 20 minggu, yang dalam kondisi tertentu dapat berkembang menjadi gangguan berbahaya hingga mengancam keselamatan ibu dan bayi.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, dr. Gorga Udjung, Sp.OG, menjelaskan bahwa preeklamsia berkaitan dengan gangguan pada plasenta yang prosesnya sebenarnya telah terjadi sejak awal kehamilan.
Meski demikian, risiko terjadinya kondisi tersebut masih dapat ditekan melalui langkah pencegahan yang tepat.
“Preeklamsia itu masalah dari kehamilan. Dia start-nya di 20 minggu ke atas. Setelah 20 minggu ke atas, bisa muncul preeklamsia,” ujar dr. Gorga.
BACA JUGA:Kapan Anak Mulai Belajar Puasa? Dokter Ungkap Bisa Sejak Dini Asal Bertahap dan Tidak Dipaksa
BACA JUGA:Kenalkan Tokoh Perkasa dari Berau, Film Kolosal Raja Alam akan Segera Hadir di Layar Lebar
Menurut dr. Gorga, meskipun akar permasalahan preeklamsia berasal dari fase awal kehamilan, ibu hamil tetap dapat berperan aktif mencegah kondisi ini berkembang menjadi lebih berat.
Upaya pencegahan dapat dimulai sejak sebelum hamil hingga selama masa kehamilan melalui penerapan gaya hidup sehat dan pemantauan medis secara rutin.
Salah satu langkah utama yang disarankan adalah menjaga berat badan sejak sebelum kehamilan hingga trimester awal.
Ia menegaskan bahwa obesitas merupakan salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya tekanan darah tinggi saat hamil.
Oleh karena itu, pengendalian berat badan ideal sebaiknya sudah dilakukan sejak menjalani program kehamilan.
“Sejak awal promil itu harus dijaga berat badannya. Jangan obesitas, tekanan darahnya jangan tinggi, dikontrol. Sebelum hamil malah, biar lebih baik,” jelasnya.
Berat badan yang terkontrol membantu tubuh beradaptasi lebih baik terhadap perubahan selama kehamilan dan mengurangi beban sistem peredaran darah.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

