Warga Minta Mesin Pencacah, DPRD Balikpapan Dukung Pengelolaan Sampah Jadi Potensi Ekonomi

Jumat 24-10-2025,21:50 WIB
Reporter : Chandra
Editor : Tri Romadhani

BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM — Salah seorang warga di Kelurahan Sungai Nangka, Pipin, mengungkapkan bahwa di lingkungannya telah ada Bank Sampah, yang berguna untuk meningkatkan kesadaran warga tentang upaya pemilahan sampah.

Namun kondisi Bank Sampahnya saat ini ada yang aktif dan nonaktif. Untuk itu, ia mengaku bahwa membutuhkan alat pencacah sampah.

“Kami memohon bantuan untuk memberikan alat untuk pencacah, maksudnya mesin pengolah bahan plastik dari sampah plastik dan organik,” tuturnya beberapa waktu lalu.

Menanggapi hal tersebut, Anggota Komisi III DPRD Balikpapan, Wahyullah Bandung, mengatakan akan menampung aspirasi tersebut.

BACA JUGA:Inovasi Digital PPU, Simperjadin Bikin Perjalanan Dinas Pegawai Pemerintah Lebih Efisien dan Transparan

Ia juga menekankan pentingnya menjadikan sampah sebagai potensi ekonomi baru.

Wahyullah menyampaikan bahwa pengelolaan sampah dapat membuka peluang usaha skala kecil, bahkan menjadi bagian dari strategi pengendalian banjir.

Ia mencontohkan praktik di RT 18 Sepinggan Baru, di mana pemilahan sampah rumah tangga telah berkembang hingga menghasilkan pemasukan tersendiri bagi warga.

"Daripada waktu habis untuk menonton TikTok, ibu-ibu bisa memilah sampah dan mendapat penghasilan tambahan," ujarnya, Jumat 24 Oktober 2025.

Wahyullah mengaku telah meninjau berbagai lokasi pengelolaan sampah di Jakarta, Bantar Gebang, dan Bali.

BACA JUGA:Pemkab Kukar Gelontorkan Rp10 Miliar untuk Normalisasi Irigasi dan Jalan Tani Loa Ipuh

Ia menemukan bahwa plastik bekas dan limbah lainnya bisa diolah menjadi produk bernilai jual tinggi, bahkan diekspor.

Menurutnya, pengelolaan sampah dari hulu sangat penting untuk mencegah penumpukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Manggar yang diprediksi akan penuh pada 2028.

Ia juga menyoroti perilaku warga yang masih membuang sampah sembarangan ke saluran air, yang memperparah risiko banjir.

"Saya pernah lihat kasur dibuang ke parit. Itu karena sampah tidak dikelola dengan baik," katanya.

Kategori :