MAHULU, NOMORSATUKALTIM - Sulitnya akses infrastruktur jalan menuju wilayah perbatasan Mahulu menjadi cerita lama yang terus berulang setiap tahun.
Alih-alih bicara akses menuju perbatasan, akses jalan antara kabupaten saja masih amburadul. Seperti dari Kutai Barat menuju Mahakam Ulu.
Setiap tahun masyarakat di wilayah ini dihadapkan dengan persoalan yang sama. Sulitnya akses transportasi.
Belum lagi bicara pembangunan di sektor lainnya, sebagian besar masih jauh di bawah standar, seperti sektor ekonomi, pertanian, pariwisata dan lainnya.
BACA JUGA:Distribusi Bantuan dari Pemprov Kaltim, Ketua DPRD Mahulu Singgung Pentingnya Langkah Cepat Pemkab
BACA JUGA:Hujan Mulai Mengguyur Wilayah Mahulu, Debit Air Sungai Mahakam Perlahan Naik
Semua sektor tersebut sebenarnya sangat berpotensi untuk segera ditingkatkan, tapi persoalan mendasarnya masih belum tuntas dikerjakan.
Sebagian besar masyarakat di wilayah ini masih mengandalkan Sungai Mahakam sebagai akses transportasi. Kadang tidak selalu lancar, bahkan memperparah keadaan saat musim kemarau karena kondisi air Sungainya surut.
Kondisi ini mendapat sorotan dari Ketua DPRD Mahulu, Devung Paran. Legislator Dapil 3 meliputi Kecamatan Long Pahangai dan Long Apari yang tentu memahami betul kondisi hiruk-pikuk wilayah perbatasan Mahulu.
Dia mengatakan, akibat sulitnya akses transportasi ke wilayah perbatasan, harga bahan kebutuhan jauh lebih mahal, ketimbang di pusat kabupaten.
Apalagi jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya di Kaltim. Bahkan kelangkaan bahan kebutuhan pokok dan BBM di wilayah perbatasan juga sering kali terjadi.
BACA JUGA:Ketua DPRD Mahulu Lantik Lut Minal Abidin Jadi Anggota Dewan
Kondisi tersebut sangat terasa, saat debit air Sungai Mahakam surat pada musim kemarau.
Fenomena ini sangat terasa, saat debit air Sungai Mahakam surat pada musim kemarau, dan terjadi setiap tahun.
“Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan, terutama di dua kecamatan di ulu riam,” ujar Devung Paran saat diwawancara NOMORSATUKALTIM, Kamis 7 Agustus 2025.