JKN Jadi Harapan Utama saat Berobat

Minggu 20-07-2025,20:57 WIB
Reporter : Michael Fredy Yacob
Editor : Didik Eri Sukianto

Masalah berikutnya adalah ketersediaan kamar. BPJS Kesehatan yang dimiliki kelas 3. Tapi, kamar kelas tiga di rumah sakit penuh. Akhirnya, dokter di sana menawarkan untuk naik kelas. Jadi perawatan kelas 2.

“Kami setuju. Kami gak ada bayar apapun. Semua gratis,” ungkapnya.

Saat ini, Lahang masih dalam proses pemulihan. Tahun depan, dia harus membawa anaknya yang saat ini sudah duduk di bangku SMA itu untuk kontrol ke RSUD AWS Samarinda.

“Di masa pemulihan ini, Lahang tidak diperbolehkan sementara waktu melakukan aktivitas yang berat,” ucapnya.

Ternyata, tidak hanya masyarakat yang memiliki ekonomi rendah saja yang saat ini menggunakan BPJS Kesehatan. Para pejabat pun menggunakan. Seperti halnya Lukman.

Ia seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang menjabat sebagai Asisten II Pemkot Bontang.

Ia menceritakan beberapa tahun ini semakin rutin menggunakan BPJS Kesehatan. Apalagi setelah ia pasang ring di jantungnya.

“Total sejak tahun lalu sudah ada empat ring yang sudah terpasang di jantung saya,” ungkapnya.

Menurutnya, BPJS Kesehatan saat ini sudah lebih baik. Tidak ada sekat antara pasien mandiri dan pasien BPJS.

Ia pun merasakan setelah dirinya rutin melakukan pemeriksaan. “Saya sekitar 2 sampai 3 tahun terakhir semakin rutin menggunakan BPJS,” ungkapnya.

Setiap bulan saya harus gonta ganti dokter spesialis. Mulai dari dokter jantung, dokter penyakit dalam, dokter mata, dan dokter kulit. Terakhir kemarin harus ke fisioterapi. “Itu sudah pasti saya lakukan setiap bulan,” ucapnya.

Ia mengaku, memiliki beberapa asuransi swasta. Hanya saja, setiap kali berobat, asuransi itu tidak pernah ia gunakan. Selalu menggunakan BPJS Kesehatan.

“Kalau asuransi swasta kan hanya penyakit tertentu saja yang ditanggung. Kalau BPJS Kesehatan, hampir semua penyakit yang di-cover,” ungkapnya.

Kalaupun harus dirujuk ke rumah sakit di luar Kota Taman, mantan Wakil Direktur RSUD Taman Husada Bontang ini mengaku terlayani dengan baik. Dirinya dirujuk sesuai mekanisme yang berlaku.

“Misalnya di Poli Mata RSUD Taman Husada Bontang tidak memiliki alatnya, saya pasti akan dikirim ke rumah sakit mata di Samarinda. Selama ini, saya tidak pernah ada masalah mengenai pelayanan BPJS Kesehatan,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Kota Bontang, Laily Jumiati mengatakan, namanya pelayanan, pasti ada saja yang merasa tidak puas. Tetapi, dari berbagai keluhan BPJS Kesehatan mencoba untuk melakukan pembenahan.

Kategori :