Aksi sepihak tersebut sontak membuat warga panik.
BACA JUGA: Ibu-Ibu Muara Muntai Diberi Pelatihan Tata Rias Wajah dan Khitanan Gratis
BACA JUGA: Sopan Sopian: Muara Muntai Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Unggulan Kukar
Meskipun tidak terjadi perlawanan secara fisik dari warga desa, mereka tetap bersiaga dan mengamankan diri dari amukan kelompok yang diduga berasal dari desa tetangga.
Penolakan terhadap keberadaan Pelindo menjadi alasan utama penyerangan massa tersebut.
“Iya, itu bukan warga kami, mereka dari desa sebelah. Forum itu menolak adanya Pelindo dan menduga warga Muara Muntai Ilir dipekerjakan sebagai asisten pandu,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa warga Muara Muntai Ilir tidak memiliki keterlibatan langsung dalam operasional Pelindo.
BACA JUGA: DPRD Kukar Minta Pemkab Uji Sampel Air Penyebab Ikan Mati Mendadak di Muara Muntai
BACA JUGA: Tekan 600 Ton Sampah Harian, TPA Sambutan Diperluas 30 Hektare dan Siapkan 10 Insinerator
Bahkan, ia menegaskan bahwa tidak ada satu pun warga desa yang memiliki lisensi sebagai asisten pandu, seperti yang dituduhkan.
“Isu yang beredar itu tidak benar. Kami cuma bekerja sama dalam hal pengadaan minyak saja dengan karyawan Pelindo. Tidak lebih dari itu,” terang Arifadin.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa operasi Pelindo yang berlangsung di wilayah perairan Muara Muntai Ilir sering kali disalahartikan oleh masyarakat luar.
Hal ini menimbulkan kesalahpahaman dan berujung pada aksi kekerasan yang tidak berdasar.
Salah satu korban penyerangan sekelompok massa mengalami luka di kepala.-(Foto/ Istimewa)-
BACA JUGA: Mantan Karyawan Curi dan Bakar Toko, Terungkap setelah Korban Cek Rekaman CCTV
BACA JUGA: Cek di Sini, Tiga Shio Ini Bakal Panen Cuan Mulai Pekan Depan