"Ini adalah prioritas utama kami. Namun, memang beberapa hari ini hujan sangat lebat, sehingga air meluap,” tuturnya.
Ia mengungkapkan, anggaran untuk proyek drainase terus meningkat sejak 2021, mencerminkan komitmen Pemkab Berau dalam menangani permasalahan banjir.
Pada tahun 2021 dikucurkan anggaran sebesar Rp 4,8 miliar untuk penanganan sepanjang 296,3 meter, pada tahun 2022 dikucurkan anggaran sebesar Rp 109,9 miliar dengan penanganan sepanjang 6.105 meter.
Kemudian, pada tahun 2023 dikucurkan anggaran sebesar Rp 233 miliar untuk penanganan sepanjang 11.649 meter. Dan pada tahun 2024 dikucurkan pula anggaran sebesar Rp 415,36 miliar dengan panjang penanganan 18.880 meter.
“Dalam empat tahun terakhir, total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp 763 miliar untuk pembangunan drainase sepanjang 36.931 meter. Ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan banjir,” ungkapnya.
Tidak hanya meningkatkan anggaran, Pemkab Berau juga berfokus pada efisiensi sistem drainase dengan memastikan setiap jaringan yang dibangun saling terhubung. Hal ini diharapkan dapat mengoptimalkan pengelolaan air di wilayah Berau.
“Kami tidak hanya membangun drainase secara sporadis. Sistem ini dirancang untuk saling terkoneksi agar pengelolaan air lebih efektif,” jelasnya.
Dengan pembangunan drainase yang lebih luas dan terencana, Hendra berharap dampaknya akan langsung dirasakan oleh masyarakat. Selain meminimalkan risiko banjir, sistem drainase yang baik juga akan mendukung pengembangan wilayah secara keseluruhan.
“Kami ingin memastikan masyarakat merasa lebih aman dan nyaman, terutama di wilayah yang rawan banjir. Pembangunan drainase ini adalah bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih baik,” pungkasnya.