Rusmulyadi menilai bahwa transparansi dalam pengambilan data dan metode penilaian sangat penting agar IPP benar-benar mencerminkan kondisi yang ada di lapangan.
Meskipun ada ketidakpuasan pada penilaian, Rusmulyadi tetap bersyukur karena secara keseluruhan IPP Kaltim berada di atas rata-rata nasional dengan selisih 16 poin.
Selain itu, Kaltim juga mencatat prestasi dalam beberapa domain lain, seperti pendidikan yang berada di peringkat ke-2 nasional, kesejahteraan mendapat nilai tertinggi se-Indonesia dengan 82,50 poin, dan gender peringkat ke-4 nasional.
“Namun, tantangan di domain kepemimpinan harus menjadi perhatian. Kami berharap BPS lebih terbuka dalam menjelaskan metode sampling dan mempertimbangkan data administrasi sebagai pelengkap. Dengan begitu, hasil IPP bisa lebih representatif,” tutupnya.
BACA JUGA : Timnas Putri Indonesia jadi Juara di AFF Wanita 2024, Pelatih Satoru Mochizuki Beberkan Rahasianya
Ia juga mengapresiasi peran media dalam mengawal isu ini.
“Dengan banyaknya pemberitaan tentang kegiatan kepemimpinan yang kami lakukan, harapannya BPS lebih memahami dan terbuka terhadap data administrasi yang ada. Semakin banyak publikasi, semakin jelas bahwa upaya pembinaan itu nyata,” katanya.
Meski metode survei BPS menuai kritik, pencapaian IPP Kaltim tetap menjadi refleksi dari komitmen Dispora dalam membangun generasi muda yang tangguh.
Namun, langkah ke depan membutuhkan evaluasi lebih dalam agar setiap upaya pembinaan kepemimpinan benar-benar terlihat dalam indikator penilaian.