Pengelolaan Sampah Berbasis Warga Dinilai Tersendat, Wahyullah Soroti Antara Kebijakan dan Realitas
Anggota Komisi III DPRD Kota Balikpapan, Wahyullah Bandung-Salsa/ Nomorsatukaltim-
BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM - Pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kota Balikpapan menunjukkan jarak yang lebar antara desain kebijakan dan realitas pelaksanaannya di tingkat lingkungan.
Target pengurangan sampah dari sumber yang tertuang dalam regulasi belum sepenuhnya tercermin dalam keberlanjutan bank sampah unit di lapangan.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi III DPRD Kota Balikpapan, Wahyullah Bandung, menanggapi arah kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan dalam pengendalian timbunan sampah yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.
Wahyullah menilai desain kebijakan tersebut belum sepenuhnya ditopang oleh sistem operasional dan dukungan anggaran yang memadai.
BACA JUGA: Pilah Sampah Berbasis RT, Antar Balikpapan ke Posisi 2 Nasional
Ia menyebut, dari sekitar 210 unit bank sampah yang saat ini tercatat di Balikpapan, jumlah yang benar-benar aktif tidak mencapai separuh.
"Kalau 550 ton sampah harian itu dikelola lewat bank sampah, sekitar 120 ton sebenarnya bisa ditangani di level masyarakat. Masalahnya, bank sampah unit tidak ditempatkan dalam sistem yang menjamin kepastian operasional," ujar Wahyullah pada Sabtu, 17 Januari 2026.
Ia mengungkapkan, banyak bank sampah unit dibentuk dengan partisipasi aktif warga, khususnya ibu-ibu rumah tangga.
Namun, kegiatan tersebut kerap terhenti karena tidak adanya kepastian pengangkutan sampah dari bank sampah unit ke bank sampah induk.
BACA JUGA: Bank Sampah Mandek di Balikpapan, DPRD Sebut Penyebabnya karena Hal Ini
"Sampah sudah dipilah dan dikumpulkan, tapi tidak ada kepastian kapan dijemput. Dalam kondisi seperti itu, bank sampah unit tidak bisa bertahan," ungkapnya.
Wahyullah juga menyinggung minimnya dukungan insentif bagi pengelola bank sampah unit.
Baginya, regulasi telah membuka ruang bagi pemerintah untuk memberikan stimulan kepada masyarakat, namun kebijakan tersebut belum dijalankan secara konsisten.
Ia menuturkan, apabila bank sampah unit memperoleh dukungan yang setara dengan peran RT, baik dalam bentuk insentif maupun jaminan operasional, maka pengurangan sampah dari sumber dapat berjalan lebih sistematis dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

