RDMP Bukan Solusi Tunggal Ketahanan Energi Nasional, Peneliti: Sumbernya bukan Hanya Minyak
Kilang Pertamina Balikpapan.-DOK/KPB-
BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM - Keberadaan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dinilai penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional, namun tidak dapat diposisikan sebagai solusi tunggal untuk mencapai swasembada energi di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan peneliti energi sekaligus akademisi STT Migas Balikpapan, Andi Jumardi dalam diskusi Forum Wartawan Ekonomi Bisnis (FWEB) Kaltim bertajuk "Swasembada energi di Era Prabowo, Sekadar Wacana atau Sudah Terencana", pada Selasa, 3 Fabruari 2026.
Andi menegaskan, pembahasan energi nasional kerap dipersempit hanya pada minyak, padahal struktur konsumsi energi Indonesia jauh lebih beragam.
Berdasarkan data yang dipaparkannya, konsumsi energi nasional tahun 2024 mencapai sekitar 1,3 juta MBOE, dengan porsi minyak hanya sekitar 21 persen.
BACA JUGA: RDMP Balikpapan Perkuat Ketahanan Energi, Ini Pesan dari Akademisi
"Sumber energi tidak hanya minyak. Ada gas, batu bara, listrik, serta energi baru dan terbarukan yang juga berkontribusi besar dalam sistem energi nasional," ujarnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan minyak nasional saat ini berada di kisaran 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari, sementara produksi minyak dalam negeri hanya sekitar 500-600 ribu barel per hari.
Kondisi tersebut menciptakan kesenjangan pasokan yang selama ini ditutup melalui impor minyak mentah maupun BBM jadi.
Menurutnya, impor minyak mentah dipilih karena lebih murah dibandingkan impor BBM jadi. Namun, keterbatasan kapasitas pengolahan kilang dalam negeri menjadi tantangan tersendiri.
BACA JUGA: PPU Ambil Peran Vital dalam Swasembada Energi Lewat Proyek RDMP Balikpapan
Berdasarkan data 2024-2025, kapasitas pengolahan minyak nasional berada di kisaran 1,1 hingga 1,2 juta barel per hari, masih di bawah kebutuhan domestik.
Dalam konteks tersebut, RDMP Balikpapan yang meningkatkan kapasitas kilang dari sekitar 290 ribu barel menjadi 360 ribu barel per hari dinilai memberikan tambahan kapasitas sekitar 8 persen secara nasional.
Meski demikian, Andi menekankan bahwa peningkatan tersebut belum sepenuhnya menutup kebutuhan BBM dalam negeri.
"Dengan kebutuhan sekitar 1,6 juta barel per hari, masih ada sekitar 400 ribu barel yang harus dipenuhi dari impor," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

