Akademisi Soroti Jl MT Haryono Balikpapan Rawan Banjir karena Topografi Cekungan, Perlu Solusi Terpadu
Genangan banjir yang melanda wilayah MT Haryono Balikpapan usai hujan deras yang mengguyur, pada Selasa (3/2/2026).-Chandra/ Nomorsatukaltim-
BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM — Genangan banjir yang masih melanda sejumlah titik di Kota Balikpapan pada Selasa, 3 Februai 2026 sore, tidak semata dipicu oleh hujan ekstrem, namun karena keterbatasan kapasitas sistem drainase perkotaan yang ada.
Hal tersebut disampaikan Dosen Teknik Sipil Politeknik Negeri Balikpapan, Ir. Aco Wahyudi terkait penyebab banjir dan efektivitas program pelebaran drainase yang saat ini dilakukan Pemkot Balikpapan.
Aco Wahyudi menjelaskan, bahwa hujan deras memang menjadi pemicu awal, namun ketidakmampuan drainase menyalurkan limpasan air menjadi faktor utama yang menyebabkan genangan meluas di jalan dan kawasan permukiman.
Ia menyebut, secara teknis, intensitas hujan yang terjadi kemungkinan jauh melampaui kapasitas desain drainase eksisting yang umumnya hanya dirancang untuk hujan dengan periode ulang dua hingga sepuluh tahunan.
BACA JUGA: Balikpapan Masuki Puncak Musim Hujan, Warga di Permukiman Rawan Banjir Diminta Siaga
“Hujan sangat deras menjadi pemicu, tetapi keterbatasan kapasitas infrastruktur drainase merupakan penyebab utama terjadinya banjir,” ujar Aco Wahyudi saat dikonfirmasi, pada Rabu, 4 Februari 2026.
Ia mengungkapkan, bahwa kondisi saluran drainase yang tidak optimal, akibat endapan sedimen dan sampah, memperburuk kemampuan sistem dalam mengalirkan air secara cepat.
Situasi tersebut menyebabkan air meluap ke badan jalan dan area sekitar, terutama pada saat volume limpasan meningkat secara drastis dalam waktu singkat.
Menurutnya, tanpa sistem drainase yang berfungsi optimal, hujan dengan intensitas tinggi hampir pasti akan menimbulkan genangan.
BACA JUGA: Curah Hujan Capai 47 Milimeter, Jalan MT Haryono Balikpapan Belum Bebas Genangan
Menanggapi upaya pelebaran drainase yang dilakukan Pemkot Balikpapan, Aco menilai langkah tersebut secara prinsip merupakan tindakan teknis yang benar, namun keberhasilannya sangat bergantung pada pendekatan perencanaan yang digunakan.
Ia menekankan bahwa pelebaran saluran hanya akan efektif jika didasarkan pada data hidrologi terbaru, termasuk mempertimbangkan peningkatan curah hujan akibat perubahan iklim global.
“Pelebaran drainase akan sia-sia jika dilakukan secara parsial tanpa melihat sistem secara keseluruhan,” ujarnya.
Ia menyoroti bahwa salah satu aspek penting yang kerap diabaikan dalam penanganan drainase Balikpapan adalah pengaruh pasang surut air laut, terutama pada saluran yang bermuara langsung ke laut.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

