Sentra Olahraga Jadi Lumbung Atlet Masa Depan

Sentra Olahraga Jadi Lumbung Atlet Masa Depan

--


BannerDispora--

Samarinda, nomorsatukaltim.disway.id - Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kaltim, Agus Hari Kesuma (AHK) memaparkan bahwa proses menciptakan atlet-atlet andal, tak bisa dilakukan secara instan.

Maka dengan adanya DBON, AHK menyebut akan membentuk sentra-sentra olahraga yang akan menjadi lumbung penghasil atlet masa depan, bukan saja untuk Kaltim tapi Indonesia.

Program tersebut ternyata sudah dijalankan oleh Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) Kaltim. Yakni dengan membuka sekolah-sekolah menembak di beberapa kabupaten/kota, seperti Samarinda, Balikpapan, Bontang dan PPU.

Terbukti, apa yang dilakukan selama ini sudah menunjukkan hasil yang luar biasa. Terutama dalam keterlibatan Perbakin Kaltim dalam beberapa kejuaraan nasional untuk kualifikasi Minimum Qualification Score (MQS) menuju PON XXI/2024 di Aceh-Sumatera Utara (Sumut). Di mana 90 persen materinya berisikan atlet-atlet yang masih berstatus pelajar.

"Kebetulan, saat ini kami lagi fokus ke pelajar, khususnya usai SMP dan ternyata sejalan dengan program DBON," ujar pelatih menembak Kaltim, Slamet Hadiwijaya.



Hanya memang diakuinya ada sedikit kendala dalam penyebaran atlet, karena masih didominasi empat daerah yang disebutkan di atas. Ia pun berharap, kabupaten/kota yang lain bisa juga didirikan sekolah-sekolah menembak, yang tentunya nanti diharap kian menunjang peningkatan prestasi olahraga Benua Etam.

Seperti diwartakan sebelumnya, dalam seri terakhir kejuaraan kualifikasi MQS di Jakarta, Kaltim berhasil 1 emas, 3 perak dan 2 perunggu. Secara umum, ada sebelas atlet yang berhasil memenuhi syarat MQS kelolosan ke PON tahun depan. Dengan 90 persen di antaranya adalah penembak-penembak dari kalangan anak-anak muda.

Salah seorang di antara atlet-atlet muda ini adalah Paskalis Steven. Masih berusia 16 tahun, pelajar SMA Negeri 5 Balikpapan ini, menjadi wakil Indonesia dalam ajang Kejuaraan Dunia di Korea Selatan, beberapa waktu lalu.

"Meski belum meraih hasil maksimal di Korea, tapi tahapan seleksi untuk terpilihnya itu sangat ketat dengan sistem degradasi dan dia berhasil," tutup Slamet.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: