Kadisdikpora PPU Tegur Keras SPPG: Ahli Gizi Jangan Cuma Jadi Pajangan!
Kepala Disdikpora Kabupaten PPU, Andi Singkerru.-(Disway Kaltim/ Awal)-
PENAJAM PASER UTARA, NOMORSATUKALTIM – Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Kadisdikpora) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Andi Singkerru, memberikan teguran keras kepada pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Teguran disampaikan, menyusul dugaan keracunan 25 siswa di Kecamatan Waru setelah mengonsumsi menu tambahan MBG berupa puding, pada 11 Februari 2026.
Andi menegaskan peran ahli gizi di setiap SPPG harus berjalan optimal dan tidak sekadar formalitas administratif.
Pengawasan terhadap menu makanan, termasuk camilan atau makanan kering yang direncanakan selama Ramadan, dinilai krusial untuk mencegah kejadian serupa.
BACA JUGA: Roti dari UMKM jadi Menu Pengganti MBG selama Ramadan di SPPG Penajam
BACA JUGA: MBG di Paser Tetap Jalan Selama Ramadan, Menunya Diganti Makanan Kering
"Fungsinya ahli gizi jangan cuma terpampang di situ. Jangan cuma terpampang ahli gizi atau ahli keuangan, tetapi tidak melaksanakan sesuai arahan pemerintah, tetap mengambil makanan dari luar," tegasnya, Kamis 19 Februari 2026.
Ia meminta agar setiap makanan yang disediakan, termasuk yang diproduksi pihak ketiga atau pelaku UMKM, tetap berada dalam pengawasan ahli gizi SPPG.
"Ya memang tetap terpantau, paling dia (ahli gizi) datang ke rumah (UMKM) sampai jam 10 malam saja, sudah itu pulang," sebutnya.
Menurut Andi, dugaan keracunan di Waru dipicu kelalaian dalam penyimpanan makanan. Ia mencontohkan puding yang dikonsumsi siswa tidak disimpan di lemari pendingin.
BACA JUGA: BGN Samarinda Pastikan SOP Ketat Program MBG, Antisipasi Keracunan Seperti di PPU
BACA JUGA: KIKA: Mengintimidasi Pengkritik MBG Melanggar Undang-Undang dan HAM
"Kalau tidak dimasukkan dalam kulkas, puding yang terbuat dengan ada campuran santannya otomatis basi," ungkapnya.
Ia menekankan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyasar peserta didik dari berbagai jenjang, termasuk TK dan SD yang dinilai belum mampu membedakan makanan layak konsumsi atau tidak.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

