Kinerja BUMD Belum Maksimal, Pengamat Soroti Peluang Besar di Kutim
Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman (Unmul), Purwadi Purwoharsojo.-(Ist./ Dok. Pribadi)-
KUTIM, NOMORSATUKALTIM – Peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dinilai belum maksimal dalam menopang perekonomian daerah.
Di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi yang hanya mencapai 1,05 persen pada 2025, keberadaan BUMD justru dinilai memiliki peluang besar untuk dioptimalkan.
Pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman (Unmul), Purwadi Purwoharsojo, menilai kondisi ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah untuk melakukan pembenahan serius terhadap BUMD.
Menurutnya, selama ini struktur ekonomi Kutim masih didominasi oleh sektor pertambangan yang kontribusinya mencapai sekitar 70 persen. Ketergantungan tersebut membuat daerah sangat rentan terhadap dinamika pasar global.
BACA JUGA: BUMDes Siap Kelola Sumur Tua Era Kolonial, Ada 17 Titik Potensi Belum Tergarap di Kutai Timur
BACA JUGA: ESDM Siapkan Skema Kemitraan Kelola Sumur Tua, Peluang Dongkrak PAD Kaltim dari Sektor Migas
“Selama ini daerah hanya jadi penonton. Sumber daya alamnya besar, tapi yang menikmati justru pihak luar,” ujarnya, Selasa 24 Maret 2026.
Purwadi menjelaskan, BUMD seharusnya dapat menjadi instrumen strategis dalam mengelola potensi daerah, sekaligus meningkatkan nilai tambah dari sumber daya yang dimiliki.
“BUMD itu bisa menjadi motor penggerak ekonomi daerah, asalkan dikelola secara profesional dan punya arah bisnis yang jelas,” katanya.
Namun, hingga saat ini kontribusi BUMD terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Kutim dinilai masih belum signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa potensi yang ada belum dimanfaatkan secara optimal.
BACA JUGA: Pertumbuhan Ekonomi Kutim Lesu, Pengamat Ingatkan Jangan Bergantung SDA
BACA JUGA: Kurangi Ketergantungan Tambang, DPRD Kutim Dorong Optimalisasi Pajak Daerah
Ia menilai, penguatan BUMD tidak hanya soal penyertaan modal, tetapi juga menyangkut tata kelola, manajemen, serta keberanian untuk masuk ke sektor-sektor produktif di luar pertambangan.
“Kalau hanya bergantung pada tambang, ketika harga komoditas turun, ekonomi daerah langsung ikut melemah. BUMD harus hadir sebagai penyeimbang,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
