Pertumbuhan Ekonomi Kutim Lesu, Pengamat Ingatkan Jangan Bergantung SDA
Purwadi.-istimewa-
“Ini seperti siklus. Ketika harga tinggi, daerah menikmati pertumbuhan, tapi saat harga jatuh, ekonomi ikut tertekan. Tidak ada kestabilan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa situasi serupa pernah terjadi pada periode 2015 hingga 2016, saat harga komoditas global mengalami penurunan drastis.
Pada masa itu, beberapa daerah bahkan mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif.
BACA JUGA:Polres Kutim Gelar Operasi Kesehatan di Pos Pelayanan Ketupat Mahakam
Selain faktor global, Purwadi juga menyoroti kebijakan fiskal yang dinilai turut memengaruhi kondisi ekonomi daerah.
Salah satunya adalah pemangkasan Dana Bagi Hasil (DBH) yang berdampak langsung terhadap kapasitas belanja pemerintah daerah.
“DBH itu merupakan hak daerah. Ketika jumlahnya berkurang, otomatis ruang fiskal juga ikut menyempit,” katanya.
Menurutnya, keterbatasan anggaran tersebut berdampak pada berbagai sektor, mulai dari pembangunan infrastruktur, belanja pegawai, hingga pelayanan publik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.
Di sisi lain, upaya diversifikasi ekonomi dinilai belum berjalan optimal.
Sektor-sektor non-pertambangan yang seharusnya menjadi alternatif belum berkembang signifikan untuk menopang pertumbuhan ekonomi daerah.
“Selama ini kita terlalu fokus pada tambang. Padahal, sektor lain seperti pertanian, pariwisata, dan industri pengolahan punya potensi besar jika dikelola serius,” ujarnya.
BACA JUGA:BPS Ungkap Penyebab Ekonomi Kutim Melambat di 2025, Tambang Minus 0,99 Persen
Ia juga menyoroti peran badan usaha milik daerah (BUMD) yang dinilai belum maksimal dalam memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“BUMD seharusnya bisa menjadi motor ekonomi baru. Tapi kalau tidak dikelola secara profesional, sulit untuk diharapkan menjadi penopang ekonomi daerah,” ucapnya.
Purwadi menegaskan, pemerintah daerah perlu segera melakukan pembenahan strategi pembangunan ekonomi agar tidak terus terjebak dalam ketergantungan terhadap sektor SDA.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
