Akar-akar bakau yang tumbuh rapat berfungsi menahan abrasi dan meredam gelombang laut yang mengancam garis pantai.
Fungsi ekologis tersebut menjadi alasan utama mengapa kawasan mangrove terus dipertahankan dan dikembangkan. Upaya rehabilitasi yang dilakukan selama bertahun-tahun menunjukkan hasil yang signifikan.
Data pengelolaan kawasan mencatat luas mangrove di lokasi tersebut meningkat dari 84,67 hektare pada 2002 menjadi 279 hektare saat ini.
Pertumbuhan itu menunjukkan keberhasilan program konservasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
BACA JUGA:Ekspor CPO Resmi Satu Pintu di Danantara, Bagaimana Nasib Industri Cangkang Sawit?
Pencapaian tersebut, sekaligus memperlihatkan pengembangan destinasi wisata dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian lingkungan.
Bontang Mangrove Park, kini tidak hanya dikenal sebagai tempat berwisata, tetapi juga sebagai contoh bagaimana kawasan alam dapat dijaga sambil memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami berharap semakin banyak daerah di Kalimantan Timur yang mengembangkan destinasi berbasis alam dan konservasi sehingga potensi wisata dapat tumbuh sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan,” tutur Ririn.
Dengan luas kawasan yang terus bertambah, keberagaman satwa yang tetap terjaga, serta keterlibatan berbagai pihak dalam pengelolaannya, Bontang Mangrove Park menjadi salah satu wajah pariwisata berkelanjutan Kalimantan Timur yang mengedepankan keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian alam.