KUTIM, NOMORSATUKALTIM – Ketersediaan fasilitas pendidikan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dinilai sudah menjangkau hingga ke berbagai wilayah, termasuk daerah pelosok.
Namun di balik itu, persoalan anak tidak sekolah (ATS) masih menjadi tantangan serius yang belum sepenuhnya teratasi.
Data terbaru menunjukkan jumlah ATS di Kutim masih berada di kisaran 10 ribu anak. Angka ini memang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 13 ribu, namun tetap tergolong tinggi.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar terkait efektivitas akses pendidikan yang telah dibangun pemerintah.
BACA JUGA: 9.644 Anak di Kutim Masuk Kategori Tidak Sekolah
BACA JUGA: Jumlah Anak Tidak Sekolah Capai 4 Ribu, Disdik Berau Koordinasi Lintas Instansi
Pasalnya, secara infrastruktur, sekolah disebut sudah tersedia di hampir seluruh wilayah Kutim.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, mengakui bahwa keberadaan sekolah tidak serta-merta menjamin seluruh anak dapat mengenyam pendidikan secara optimal.
“Sepertinya sekolah kita sudah ada di mana-mana. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa masih ada anak yang tidak sekolah,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan ATS tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor sosial dan administratif yang kompleks.
BACA JUGA: Kutim Luncurkan Bus Sekolah Listrik Gratis, Simak Rutenya Berikut Ini!
BACA JUGA: Kementerian PU Tinjau Lahan Sekolah Rakyat di Sangatta, Pemkab Kutim Siapkan 8 Hektare
Salah satu penyebab yang cukup dominan adalah mobilitas penduduk yang tinggi. Banyak warga Kutim merupakan perantau yang sewaktu-waktu kembali ke daerah asal mereka.
Kondisi ini berdampak pada data kependudukan, termasuk data pendidikan anak. Tidak sedikit anak yang sebenarnya sudah pindah, tetapi masih tercatat sebagai penduduk Kutim.
“Kadang mereka itu sudah tidak di sini lagi. Ikut orang tuanya pindah, tapi datanya masih tercatat di Kutim,” jelasnya.