Tidak semua orangtua memiliki waktu maupun kemampuan untuk mendukung proses belajar anak di rumah.
BACA JUGA: Perang Berkepanjangan, Prabowo Buka Opsi WFH Massal untuk Hemat BBM
BACA JUGA: Selat Hormuz Iran Ditutup: 25 Persen Impor Minyak RI dari Sana, Ini Skenario Menteri ESDM
Faktor infrastruktur juga menjadi kendala signifikan, seperti keterbatasan akses internet dan kepemilikan perangkat pendukung pembelajaran daring.
“Akses internet, ketersediaan perangkat seperti telepon seluler, itu juga menjadi pertimbangan. Tidak semua siswa punya fasilitas yang memadai,” ujarnya.
Heriansyah menambahkan, kondisi tersebut berbeda dengan daerah di Pulau Jawa yang dinilai memiliki infrastruktur lebih siap serta tingkat kompetisi pendidikan yang lebih tinggi.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Disdik Kukar memilih untuk tetap mengutamakan pembelajaran tatap muka demi menjaga kualitas pendidikan.
BACA JUGA: Pengunjung Museum Mulawarman Tembus 700 Orang Per Hari Selama Libur Lebaran
BACA JUGA: Arus Mudik lewat Jalur Sungai di Kukar Turun 25 Persen, Dampak Insiden Kapal
“Untuk Kukar, kami berpikir lebih baik tetap tatap muka. Ini untuk menjaga kualitas pendidikan anak-anak kita,” katanya.
Meski demikian, pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk mengadopsi sistem pembelajaran daring secara terbatas di masa depan, terutama jika infrastruktur dan kesiapan sumber daya telah memadai.