Situasi semacam itu menurutnya bukan hanya merugikan individu, tetapi berpotensi mengguncang stabilitas sosial khususnya di Kalimantan Timur yang tengah berkembang pesat.
Di tengah banjir informasi yang tidak terseleksi, media profesional menempati posisi yang tidak tergantikan.
Endar menegaskan bahwa hanya media yang menjalankan proses jurnalistik secara benar konfirmasi, klarifikasi, dan verifikasi yang mampu menjadi penyaring informasi bagi publik.
Ia menempatkan media bukan hanya sebagai penyampai berita, melainkan juga sebagai mitra strategis kepolisian dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas.
BACA JUGA: Polda Kaltim Optimalkan Lahan Nonproduktif untuk Pertanian, Target 1.600 Hektare pada 2026
"Kolaborasi antara kepolisian dengan insan media menjadi sangat penting untuk menjaga transparansi, akuntabilitas, serta kebenaran informasi yang dibutuhkan masyarakat," jelasnya.
Namun Endar juga menekankan bahwa kebebasan pers harus berjalan seiring dengan tanggung jawab. Penyampaian informasi yang benar kepada publik, tegasnya, merupakan tanggung jawab bersama bukan semata urusan media, dan bukan pula hanya kewajiban pemerintah.
Selain membahas ekosistem informasi, Endar membuka ruang diskusi yang lebih luas, yakni soal transformasi institusi Polri itu sendiri.
Ia mengakui bahwa Polri terus berbenah sejak era reformasi 1998. Namun sebagai organisasi besar, perubahan tidak bisa berhenti di satu titik.
BACA JUGA: Intelkam Polda Kaltim Gandeng Media dan Pegiat Medsos Dinginkan Ruang Digital
Transformasi, menurutnya, harus berlangsung terus-menerus baik secara struktural maupun kultural, agar kepolisian mampu mengikuti perkembangan zaman dan harapan masyarakat.
"Kami ingin menjadi kepolisian yang menghormati hak asasi manusia, menghormati demokrasi, serta menjunjung tinggi nilai-nilai hukum," katanya.
Endar pun tak menampik bahwa dalam sebuah organisasi besar selalu ada kekurangan. Ia menggunakan analogi sederhana.
“Meski buah dijual mahal, selalu saja ada satu-dua yang tidak sempurna di antara tumpukan yang baik,” tutur Endar.
BACA JUGA: Imbas Kasus Narkoba Eks Kapolres Bima Kota, Polda Kaltim Buka Ruang Kontrol Masyarakat
Justru di sinilah ia menempatkan media sebagai cermin yang berharga bagi institusinya. Masukan dan kritik yang konstruktif melalui media sangat dibutuhkan. “Pandangan dari luar sering kali menjadi masukan yang objektif bagi kami,” tambahnya.