DPRD Berau Minta Pemkab Tak Paksakan Penerapan Parkir Elektronik di Pasar SAD

Senin 02-03-2026,10:01 WIB
Reporter : Maulidia Azwini
Editor : Hariadi

BERAU, NOMORSATUKALTIM - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Berau meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau tidak memaksakan penerapan parkir elektronik di Pasar Sanggam Adji Dilayas (SAD).

Sikap itu disampaikan setelah polemik portal digital di pasar induk tersebut memicu aksi unjuk rasa pedagang beberapa waktu lalu. 

Demonstrasi itu berujung pada kerusakan fasilitas portal, sehingga pemerintah daerah menghentikan sementara sistem elektronik dan mengembalikan penarikan retribusi ke mekanisme manual sambil menunggu perbaikan perangkat.

Anggota Komisi II DPRD Berau, Gideon Andris, mengatakan kebijakan tersebut perlu ditinjau ulang secara menyeluruh sebelum diterapkan kembali di masa mendatang. 

BACA JUGA: Parkir Elektronik di Pasar SAD Ditolak Pedagang, Khawatir Pengunjung Makin Sepi

BACA JUGA: Portal Parkir Elektronik Pintu Masuk Pasar SAD di Berau Belum Berfungsi

Kenijakan tersebut kata dia, perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat, khususnya pelaku ekonomi kecil yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas di pasar induk tersebut.

“Ya sebenarnya kalau untuk masyarakat Berau memang kebijakan itu harus ditinjau ulang lagi. Jangankan di pasar, di bandara pun juga merasa risih kan. Makanya kita perlu kita tinjau ulang lah,” ujar Gideon, Minggu (1/3/2026).

Ia menilai, semangat digitalisasi untuk tata kelola retribusi agar lebih transparan memang patut diapresiasi. 

Namun, dirinya menegaskan jika dampaknya justru menimbulkan keluhan dan menekan pelaku ekonomi, kebijakan itu tidak sepatutnya dipaksakan.

BACA JUGA: Portal Rusak Usai Demo, Parkir Elektronik Pasar Sanggam Adji Dilayas Berau Kembali ke Manual

BACA JUGA: UPT Sebut 70 Persen Persoalan Pasar SAD Berau Berakar dari Pasar Subuh

“Memang niat kita ingin memajukan satu teknologi supaya penarikan retribusi lebih transparan, cuma dampak yang kita dapatkan kurang maksimal, ya untuk apa dipaksakan gitu loh,” katanya.

Menurutnya, persoalan utama saat ini bukan pada teknologinya, melainkan pada kesiapan masyarakat dalam beradaptasi. Perubahan sistem dari manual ke elektronik, kata dia, membutuhkan waktu dan pendekatan yang lebih persuasif.

“Ini kan terkait dengan pola kebiasaan masyarakat. Teknologinya memang bagus kita akui, cuma ketika kita ingin memaksakan seketika masyarakat untuk langsung menggunakan teknologi tersebut, itu tidak bisa tentunya butuh waktu lah,” ujarnya.

Kategori :