Bubur Peca "Obat panjang Umur" Jadi Magnet Warga hingga Luar Kota

Sabtu 21-02-2026,16:56 WIB
Reporter : Mayang Sari
Editor : Yos Setiyono

Biaya operasional sebagian berasal dari sumbangan masyarakat. Namun Mardiana mengaku tidak pernah terlibat dalam urusan anggaran.

Ia hanya memastikan bubur matang tepat waktu.

"Kalau ada yang kasih uang, saya tanya dulu untuk saya atau untuk masak. Kalau untuk masak, saya serahkan ke pengurus,"ucapnya.

Meski telah dikenal luas dan kerap disebut sebagai warisan budaya, belum ada apresiasi khusus dari pemerintah setempat. Di sisi lain, usia Mardiana yang tak lagi muda mulai menjadi tantangan.

BACA JUGA: Keutamaan dan Faedah Berpuasa pada Nisfu Syaban, Perbanyak Amalan Ini

Ia mengaku sering sakit dan pernah menjalani operasi. Berdasarkan riwayat kesehatannya itu, Ia bahkan tak sempat mengikuti salat tarawih. 

"Kadang badan sakit semua, gak terawih. Tapi karena harus menuntaskan masakan sampai malam, apalagi ini bulan puasa jadi sudah rutinitas," tuturnya.

Sementara itu, Upaya mengajarkan resep kepada ibu-ibu dan remaja masjid sudah dilakukan. Namun belum ada yang benar-benar siap mengambil alih.

"Resepnya mungkin sudah tahu, tapi takut masak untuk orang banyak. Cara mengaduknya itu yang susah," katanya.

Ia khawatir, jika tak ada penerus, tradisi lebih dari 100 tahun itu bisa terhenti.

"Saya selalu bilang belajar. Tidak mungkin saya terus begini. Namanya umur," ucapnya lirih.

Meski demikian, selama masih mampu berdiri di depan kuali besar, Mardiana bertekad akan terus memasak. Baginya, bubur peca bukan hanya soal rasa, melainkan amanah keluarga sekaligus warisan budaya Kota Samarinda.

Selama azan magrib berkumandang di Masjid Shiratal Mustaqiem setiap Ramadan, aroma bubur peca akan tetap mengepul. 

"Saya cuma ingin bubur peca jangan sampai hilang. Siapa pun nanti yang melanjutkan, yang penting rasanya tetap sama dan orang-orang masih bisa berbuka di sini,"tutupnya. (*)

 

Kategori :