Bagi warga Samarinda Seberang, bubur peca bukan sekadar menu berbuka. Ia menjadi bagian dari identitas kampung. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai "obat panjang umur".
"Kalau Ramadan tanpa bubur peca, rasanya ada yang kurang," kata Mardiana.
"Tradisinya suku Bugis di sini berbuka puasa dengan bubur peca. Makanya orang di sini berebut, biar sedikit asal dapat piring.
Soalnya berkahnya itu setahun sekali merasakan panjang umur, mereka berdoa bisa ketemu dan makan bubur ini lagi tahun depan," sambungnya.
BACA JUGA: Seharian Main Game Selama Puasa, Emang Boleh?
Tak hanya dinikmati warga lokal, Cerita tentang bubur khas ini pun menyebar ke luar kota.
Memantik rasa penasaran pengunjung dari jauh untuk datang.
Mardiana menyebut rombongan dari Madura, Bali, Balikpapan, hingga komunitas motor pernah berbuka bersama di masjid tersebut, dengan jumlah mencapai lebih dari 100 orang.
Namun, Dia mengingatkan agar rombongan besar memberi kabar lebih dahulu kepada pengurus masjid.
"Kalau 50 orang datang tanpa bilang, takutnya tidak cukup. Kalau ada pemberitahuan, kami bisa tambah masak,"ujarnya.
BACA JUGA: Kenapa Awal Puasa Bisa Berbeda? Ini Penjelasan Ilmiah dan Dasar Agamanya
Saat ini Mardiana dibantu enam orang di dapur. Sebelumnya sempat tujuh orang, namun dua di antaranya berhenti karena tidak sanggup mengikuti ritme kerja yang panjang.
Adapun, Para remaja dan pemuda masjid hanya membantu di bagian distribusi, bukan memasak.
Mardiana menuturkan, Para juru masak tidak menerima gaji bulanan. Mereka hanya memperoleh Tunjangan Hari Raya (THR) sebesar Rp1.500.000 per orang setiap Ramadan dari seorang dermawan.
BACA JUGA: Jelang Bulan Puasa, Begini Pesan Wawali Bontang kepada ASN
"Di luar Ramadan tidak ada apa-apa. Kami masak saja,"katanya.