Hal ini mencakup penelitian terhadap karakter tanah, ketersediaan bahan baku, serta ketahanannya terhadap cuaca.
BACA JUGA:Kaltim Masih Diguyur Hujan, BMKG Sebut Pola Angin Regional Jadi Faktor Utama
Ia pun mendorong perguruan tinggi untuk terlibat dalam riset mengenai kemungkinan produksi material atap dari tanah lokal, termasuk apakah tanah di Kaltim cocok untuk bahan genteng atau alternatif lain.
"Dari riset itu baru bisa diketahui apakah layak dikembangkan sebagai industri daerah atau tidak," jelasnya.
Ia juga menyinggung pentingnya dampak ekonomi dalam kebijakan material bangunan.
Pengembangan bahan konstruksi lokal dinilai berpotensi menciptakan lapangan usaha baru bagi masyarakat, asalkan tidak dimonopoli industri besar.
Pengalaman industri bata merah rakyat yang tergeser oleh bata ringan produksi massal menjadi pelajaran penting.
Sehingga, kebijakan serupa tidak menghilangkan sumber penghidupan warga.
Dari sisi fungsi bangunan, Wahyullah mengakui genteng memiliki kemampuan mereduksi panas lebih baik dibandingkan seng.
Namun keunggulan tersebut tetap perlu diimbangi dengan aspek biaya, ketersediaan material, serta kesesuaian struktur rumah.
Ia menyakini teknologi konstruksi saat ini juga memungkinkan atap seng dibentuk dengan desain tertentu yang lebih rapi dan tetap ringan, agar persoalan visual bukan faktor utama dalam pemilihan material.
BACA JUGA:Tanggapi Lambannya Respons Call Center Gratispol, Begini Jawaban Pemprov Kaltim
"Yang paling penting adalah kenyamanan termal, keberlanjutan lingkungan, dan manfaat ekonomi. Bentuk atap bisa disesuaikan dengan desain," tekannya.
Wahyullah menegaskan setiap wilayah memiliki karakter konstruksi yang tidak bisa diseragamkan.
Tanpa kajian berbasis data dan riset akademik, kebijakan penggantian atap berisiko menimbulkan beban baru bagi masyarakat.
Di Kalimantan Timur, bagi Wahyullah, solusi terbaik adalah menemukan material atap yang paling sesuai dengan kondisi lokal, bukan sekadar mengikuti pola yang berhasil di daerah lain.