MAHULU, NOMORSATUKALTIM- Fenomena kelangkaan BBM yang terjadi di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) menyebabkan harga eceran melambung tinggi karena tersendatnya pasokan di SPBU.
Seperti di Ujoh Bilang, dari yang biasanya harga pengecer menjual di kisaran Rp15 ribu per liter, sekarang naik menjadi Rp17 ribu, bahkan Rp20 ribu lebih per liter.
Kondisi yang paling parah terjadi di wilayah hulu Mahakam, seperti di kecamatan Long Pahangai dan Long Apari. Dua kecamatan itu terletak di wilayah perbatasan, bahkan hanya bisa dijangkau lewat jalur Sungai Mahakam.
Kondisi ini pun mendapat perhatian dari Wakil Ketua DPRD Mahulu, Desiderius Dalung Lasah yang merupakan legislator Dapil III mencakupi Long Pahangai dan Long Apari.
BACA JUGA: Sungai Mahakam Surut Lagi, Warga Perbatasan Mahulu Mulai Sulit Mendapatkan BBM
BACA JUGA: BBM di Mahulu Langka, Diduga Distribusi Terhambat Kondisi Air Sungai Mahakam Surut
Desiderius mengaku DPRD melalui komisi III bakal melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan mengundang seluruh pihak Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) di Mahulu.
RDP tersebut nantinya untuk menanyakan langsung terkait pendistribusian BBM di Mahulu, termasuk jumlah kuota yang disediakan di setiap APMS.
“Kami sudah diskusi juga, rencana mau RDP nih, panggil penanggung jawab APMS atau pengelola SPBU di Mahulu. Karena sebenarnya di Mahulu ini sudah ada yang ditunjuk untuk menangani BBM di setiap kecamatan, cuma kuota mereka kita nggak paham,” ujar Desi, Kamis, 29 Januari 2026.
Ia mengaku kesulitan mendapatkan BBM hampir terjadi sejak tahun 2025 lalu, terutama di wilayah perbatasan.
BACA JUGA: Sikap Pemkab Mahulu soal Keberlanjutan Subsidi Ongkos Angkut Masih Abu-abu
BACA JUGA: BBM Subsidi untuk Kapal Kosong, Distribusi Barang ke Kutai Barat Terganggu
Bahkan, akibat terbatasnya kuota BBM, pihak APMS seringkali melakukan pembatasan jumlah kota pembelian.
Seperti di Long Apari, warga hanya boleh membeli BBM jenis pertalite paling banyak 5 liter. Kemudian di Long Pahangai paling banyak 20 liter dengan menyertakan surat rekomendasi dari pemerintah kampung setempat.
“Ini dari tahun kemarin mulai susah minyak, dulu nggak pakai batas, sekarang dibatasi jumlahnya,” ungkap Desi.