Banyak warga Muara Kate berupaya menjenguk Anson di rumah sakit, namun dilarang dan dibatasi oleh aparat kepolisian yang berjaga.
BACA JUGA:Ahli Psikiatri Ungkap Terdakwa Pembunuhan di Punan Mahakam Berau Mengalami Depresi Berat
Bahkan terdapat warga yang menangis karena tidak diizinkan menjenguk.
"Fakta ini bertentangan dengan keterangan Anson yang menyatakan tidak pernah dibesuk warga, kecuali pada hari pertama ketika Riki datang membawa minyak bintang untuk Anson," ujar Windy.
Riki juga mengungkapkan bahwa awalnya ia mendengar cerita bahwa kedua korban terkena tembakan, namun keterangan tersebut berubah dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP).
Pasca perubahan tersebut, salah satu saksi tidak lagi berani bertegur sapa dengan pihak tertentu dan memilih menghindar, bahkan memalingkan wajah saat berpapasan.
Disampaikan Windy, dalam persidangan saksi menegaskan bahwa keresahan warga Muara Kate sudah berlangsung lama, namun banyak yang memilih diam karena takut.
Kehadiran warga dalam perlawanan bukan karena keberanian semata, melainkan panggilan hati dan solidaritas atas kematian Pendeta Pronika yang terlindas truk hauling batubara.
Selain itu, nama Pajaji berulang kali disebut dalam pemeriksaan, namun hingga kini tidak pernah diperiksa.
"Padahal, Pajaji disebut mengetahui pelaku dan bahkan menyampaikan bahwa pelaku telah ditahan di Polda Kalimantan Selatan, serta mengajak dua saksi untuk melihat langsung. Namun alih-alih diperiksa, Pajaji justru dibawa ke Balikpapan selama beberapa hari," ujar Windy.