Terkait kesiapan kawasan, Seno memastikan sebagian besar infrastruktur dasar di Kawasan Industri Maloy telah tersedia. Pasokan listrik dan air dinilai cukup untuk mendukung aktivitas industri berskala menengah hingga besar.
BACA JUGA: Ternak Ayam Milik Rutan Tanah Grogot Mampu Hasilkan Ratusan Butir Telur per Hari
BACA JUGA: Bagaimana Memulai Usaha Peternakan Ayam? Begini Kisah Andi Saputra Merintis Bisnis
"Untuk kawasan Maloy, listrik sudah ada, air juga sudah ada," katanya.
Namun demikian, ia mengakui masih terdapat satu kendala utama yang perlu segera diselesaikan, yakni ketersediaan pelabuhan sebagai sarana logistik industri.
Menurut Seno, keberadaan pelabuhan menjadi faktor krusial dalam memastikan kelancaran distribusi bahan baku dan hasil produksi.
"Tinggal satu yang masih jadi pekerjaan rumah, yaitu pelabuhan. Kita minta Kementerian Perhubungan melalui Pelindo agar segera merealisasikan pelabuhan supaya bisa beroperasi," ujarnya.
BACA JUGA: Pemkab Kutim Anggarkan Miliaran Rupiah untuk Pengadaan Peternakan Babi di 4 Kecamatan
BACA JUGA: Kisah Pengusaha Pakan Ternak dari Ponorogo, Usaha Berkembang dengan Modal KUR BRI
Seno Aji optimistis, apabila proyek hilirisasi tersebut dapat berjalan, dampaknya terhadap perekonomian daerah akan cukup signifikan, terutama dari sisi penyerapan tenaga kerja.
"Proyek-proyek seperti ini pasti berdampak pada tenaga kerja," tuturnya.
Ia menegaskan, Pemprov Kaltim mendorong agar tenaga kerja lokal menjadi prioritas utama dalam setiap proyek strategis yang masuk ke daerah.
"Kita inginkan tenaga kerja lokal terlebih dahulu yang terserap. Kalau bisa 100 persen, tetapi paling tidak sekitar 80 persen tenaga kerja berasal dari daerah," ucap Seno.
BACA JUGA: Pemprov Kaltim Tegaskan Siap Lindungi Hutan di Kaltim
Menurutnya, keterlibatan tenaga kerja lokal bukan hanya soal pemerataan manfaat ekonomi, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia Kaltim siap bersaing di sektor industri.