JAKARTA, NOMORSATUKALTIM — Dunia sepak bola Asia Tenggara bersiap menyambut era baru. Presiden FIFA Gianni Infantino resmi mengumumkan peluncuran FIFA ASEAN Cup, sebuah turnamen antarnegara di kawasan Asia Tenggara yang masuk dalam kalender resmi FIFA.
Ajang ini digadang-gadang bakal menggantikan Piala AFF, yang selama hampir tiga dekade menjadi ikon persaingan sepak bola di kawasan ini.
Pengumuman tersebut disampaikan Infantino di sela-sela KTT ASEAN ke-47 di Kuala Lumpur, Malaysia, akhir pekan ini.
Dalam pernyataannya, ia menyebut kompetisi baru itu sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan eksposur sepak bola Asia Tenggara di kancah global.
BACA JUGA: Louis Van Gaal Disebut Bakal Nahkodai Timnas Indonesia, Ini Prestasi Kepelatihannya
“Asia Tenggara memiliki semangat dan basis pendukung luar biasa. Turnamen ini akan menjadi tonggak baru bagi sepak bola di kawasan ini,” ujar Infantino di Kuala Lumpur.
Berbeda dari Piala AFF yang selama ini tidak masuk dalam kalender resmi FIFA, FIFA ASEAN Cup akan menjadi turnamen yang diakui secara penuh oleh federasi sepak bola dunia.
Artinya, seluruh klub di dunia wajib melepas pemain mereka untuk membela tim nasional masing-masing.
Kondisi ini menjadi angin segar bagi negara-negara seperti Indonesia, yang selama ini kerap kesulitan memanggil pemain diaspora karena jadwal Piala AFF tidak termasuk agenda resmi FIFA.
BACA JUGA: Kluivert Dipecat PSSI, Siapa Pengganti yang Cocok Tangani Timnas?
“Dengan adanya FIFA ASEAN Cup, para pemain kita di luar negeri bisa tampil penuh membela Merah Putih. Karena ini agenda resmi FIFA, semua klub wajib melepas pemain mereka,” ujar pengamat sepak bola Tanah Air Ronny Pangemanan (Bung Ropan) melalui kanal YouTube-nya, Senin (27/10/2025).
Munculnya turnamen baru ini langsung menimbulkan pertanyaan, apakah FIFA ASEAN Cup akan menggantikan Piala AFF?
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari FIFA, AFC, maupun AFF mengenai posisi dua kompetisi tersebut. Namun sejumlah pengamat menilai, kehadiran turnamen di bawah naungan FIFA akan otomatis membuat Piala AFF kehilangan relevansi.