Menurut Ririn, program promosi menggunakan influencer bukan hal baru. Kementerian Pariwisata bahkan sudah lama melibatkan influencer, tiktoker, hingga YouTuber mancanegara.
BACA JUGA: Influencer Otomotif Om Mobi Hadir di Balikpapan, Bagikan Tips Membeli dan Merawat Mobil
"Di deputi pemasaran Kemenpar itu sudah ada kerja sama influencer. Jadi bukan sesuatu yang baru. Kita hanya menyesuaikan, agar pariwisata Kaltim tidak tertinggal," ujarnya.
Meski demikian, ia mengaku terbuka terhadap kritik publik. Hanya saja, ia berharap penilaian tidak dilakukan sebelum program benar-benar berjalan.
"Saya welcome dengan kritik. Tapi mari kita tabayun dulu. Program ini belum berjalan penuh, jadi output-nya belum bisa dilihat. Hasilnya nanti akan terbukti," katanya.
Ririn menilai, penggunaan influencer adalah bentuk terobosan. Dengan anggaran yang terbatas, pihaknya harus mencari cara promosi yang efektif.
BACA JUGA: Disbudpar Berau Bidik PT KAI untuk Perluas Jangkauan Promosi Wisata
BACA JUGA: Air Asia Terbang Perdana ke Berau, Bawa Misi Promosi Pariwisata
"Anggaran kami termasuk yang paling kecil di antara OPD lain. Kalau tidak ada terobosan, sulit bersaing. Jadi kami pilih jalur digital agar lebih hemat tapi berdampak luas," jelasnya.
Ia juga menekankan bahwa strategi ini tidak berarti mengabaikan media massa. Namun, regulasi teknis soal kerja sama media berada di bawah koordinasi Kominfo, sehingga Dispar memilih fokus ke digital marketing.
Dengan berbagai strategi ini, Ririn berharap wisata Kaltim semakin dikenal luas dan mampu menjadi salah satu penopang ekonomi daerah, terutama menjelang operasional IKN 2028.