Hingga hari kedua konflik, tercatat sedikitnya 13 korban jiwa di pihak Kamboja, yang terdiri dari lima tentara dan delapan warga sipil.
Jumlah ini diperkirakan masih bisa bertambah mengingat situasi keamanan yang belum kondusif untuk evakuasi dan investigasi lapangan.
BACA JUGA : Perang di Perbatasan Thailand dan Kamboja, Ini Kronologi dan Kekuatan Militernya
Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump mengklaim telah menghubungi perdana menteri Thailand dan Kamboja untuk meredakan ketegangan.
Namun imbauan tersebut tampaknya tidak digubris oleh pihak-pihak yang terlibat.
“Kamboja mengabaikan Trump,” tulis salah satu laporan media, merujuk pada kelanjutan serangan roket ke wilayah Thailand pada pagi hari.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Nikorndej Balankura, menyatakan bahwa pemerintah Thailand siap melakukan perundingan dengan Kamboja.
Ia juga membuka peluang keterlibatan negara ketiga seperti Malaysia, yang saat ini menjabat sebagai Ketua ASEAN.
BACA JUGA : Pendapatan Tesla Milik Elon Musk Anjlok, Tinggal Berharap Robotaxi dan AI Grok
“Kami siap. Jika Kamboja ingin menyelesaikan masalah ini melalui jalur diplomatik, bilateral, atau bahkan melibatkan Malaysia, kami siap melakukannya. Namun hingga kini kami belum menerima tanggapan apa pun,” ujar Nikorndej sebelum pertemuan PBB.
Sikap terbuka ini juga disampaikan oleh Penjabat Perdana Menteri Thailand, Phumtham Wechayachai, yang memperingatkan potensi eskalasi konflik jika situasi tidak dikendalikan.
"Untuk saat ini, masih terbatas pada bentrokan, tapi bisa berkembang menjadi perang terbuka," katanya kepada wartawan di Bangkok.
Kedua negara terus saling menuding sebagai pihak yang memicu konflik.
Thailand menuduh Kamboja menargetkan infrastruktur sipil, termasuk rumah sakit dan pom bensin yang terkena dampak serangan.
Sementara di PBB, perwakilan Kamboja membantah telah memulai konflik, mengingat keterbatasan kekuatan militernya dibanding Thailand.