Untuk menjadi universitas, sebuah institusi pendidikan tidak bisa hanya mengandalkan jurusan berbasis keagamaan.
Untuk itu, tim penggabungan tengah menyiapkan pembukaan dua program studi baru di luar rumpun agama.
Yaitu Manajemen Pariwisata dan Bisnis Digital sebagai bagian dari pemenuhan syarat pembentukan universitas.
"Kami sedang menyiapkan dua fakultas baru agar bisa melengkapi struktur kelembagaan universitas. Bisa juga dengan alternatif lain seperti mengadopsi jurusan dari kampus lain,” jelas Sudirman.
Soal fasilitas, ia menegaskan bahwa baik STAI maupun STIPER sudah memiliki sarana dan prasarana yang memadai.
BACA JUGA:Ganti Rugi Belum Dibayarkan Sejak 2010, Ahli Waris Pemilik Lahan Blokir Jalan Gang di Kutim
Menurutnya, meskipun nantinya kampus tetap berada di dua lokasi, hal itu tidak menjadi hambatan karena status kelembagaan tetap satu.
Selain memenuhi kebutuhan pendidikan lokal, penggabungan ini juga diharapkan mampu menarik minat mahasiswa dari luar daerah.
Sekaligus menjadi pusat kajian keilmuan berbasis lokal yang memiliki relevansi nasional.
Langkah penggabungan ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk internal kampus dan pemangku kebijakan daerah.
Proses finalisasi kini tinggal menunggu koordinasi internal dan penyelarasan administrasi antar yayasan.
BACA JUGA:Sukses Gelar MTQ Tingkat Provinsi, Kutim Tuai Apresiasi dari Wakil Gubernur Seno Aji
Sudirman optimistis, jika seluruh tahapan berjalan lancar, Kutai Timur akan memiliki universitas pertamanya dalam waktu dekat. Hal ini diyakini akan menjadi lompatan besar dalam pembangunan bidang pendidikan di daerah tersebut.
“Kami berharap ini bisa segera terwujud. Universitas ini bukan hanya cita-cita kelembagaan, tetapi juga harapan masyarakat Kutim untuk akses pendidikan tinggi yang berkualitas di daerah sendiri,” tutupnya.