Bankaltimtara

STAI dan STIPER Gabung jadi Universitas, Proses Sudah Tahap Akhir

STAI dan STIPER Gabung jadi Universitas, Proses Sudah Tahap Akhir

Asisten III Bidang Administrasi Umum Sudirman Latif (kanan) menjelaskan tentang rencana pembentukan universitas baru. -Sakiya/Disway Kaltim-

KUTIM, NOMORSATUKALTIM - Dua lembaga pendidikan tinggi di Kutim akan merger menjadi universitas.

Dua lembaga itu yakni Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sangatta dan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIPER), semakin mendekati kenyataan.

Proses tersebut telah berlangsung selama satu tahun terakhir dan kini memasuki tahapan akhir.

Rencananya, STAI dan STIPER akan dilebur menjadi satu lembaga universitas baru, yang bernaung di bawah yayasan gabungan.

BACA JUGA:Keterlambatan APBD 2025, Wakil Ketua II DPRD Kutim Nilai Ada Masalah Serius di Tim TAPD

Asisten III Bidang Administrasi Umum Setkab Kutim, Sudirman Latif, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Penggabungan Yayasan, menyampaikan bahwa upaya ini merupakan bagian dari dorongan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di daerah.

Pembentukan universitas ini sejalan dengan visi daerah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

BACA JUGA:LPG Mahal di Pelosok, Disperindag Kutim Minta Perubahan Harga Ecer Baru dari Pemprov

Yakni menjadikan Kutai Timur sebagai daerah yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing.

“Pengembangan SDM menjadi kata kunci dalam mencapai visi tersebut. Salah satunya adalah melalui lembaga pendidikan tinggi yang kuat dan terintegrasi,” ujarnya saat ditemui, Rabu 23 Juli 2025.

Ia menjelaskan bahwa tim percepatan telah melakukan sejumlah langkah penting.

Mulai dari koordinasi dengan Kementerian Agama dan Kementerian Pendidikan Tinggi hingga studi banding ke beberapa perguruan tinggi serupa di Banjarmasin.

“Kami ingin memastikan bahwa proses penggabungan ini tidak hanya memenuhi aspek administratif, tetapi juga memperhatikan kualitas dan kelayakan lembaga,” tambahnya.

Meski progresnya cukup signifikan, Sudirman mengakui bahwa tantangan tetap ada, khususnya terkait regulasi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: