BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM – Ikatan Korps Perwira Pelayaran Niaga Indonesia (IKPPNI) menerima kunjungan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Sekretariat IKPPNI pada Kamis (8/5/2025).
Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda urun rembuk untuk mendukung penelitian BRIN mengenai perkembangan sektor pelaut niaga Indonesia dalam menghadapi tantangan global, khususnya terkait transformasi menuju era Maritime Autonomous Surface Ship (MASS).
Pertemuan ini menyoroti kebutuhan antisipatif dari pemerintah Indonesia untuk menyusun strategi peningkatan mutu dan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) pelaut niaga.
Fokus pembahasan pun berpusat pada kemampuan Indonesia dalam menyikapi perubahan teknologi industri maritim yang bergerak cepat ke arah otomasi dan otonomi.
BACA JUGA: Komitmen Ditkapel Berpihak pada Pekerja Pelaut
“Pemerintah tidak boleh abai serta lalai dalam mengantisipasi daya saing SDM Pelaut Niaga terhadap pesatnya perubahan teknologi di sektor moda transportasi laut,” tutur Capt. (C) Dwiyono Soeyono, selaku Praktisi Perwira Pelayaran Niaga, sekaligus Ketua Umum Ikatan Korps Perwira Pelayaran Niaga Indonesia (IKPPNI), dalam keterangan resmi tertulisnya, pada Senin (12/5/2025).
Dalam pertemuan tersebut, IKPPNI memberikan arahan agar penelitian BRIN berorientasi pada tantangan teknologi moda transportasi laut.
Hal ini diperlukan untuk mengejar peningkatan daya saing pelaut Indonesia dalam lingkup internasional, khususnya sebagai respons terhadap pergeseran menuju teknologi kapal cerdas dan tanpa awak.
Capt. Dwiyono memaparkan bahwa Indonesia harus mampu memperkirakan serta menyusun langkah-langkah bertahap terhadap transformasi MASS.
BACA JUGA: Preman Berkedok Ormas Diringkus Polisi di Loa Janan, Minta Jatah Uang Keamanan
Hal ini mencakup kesiapan dari sisi perangkat lunak dan keras, regulasi, serta manajemen pendidikan dan pelatihan.
IKPPNI turut menyampaikan bahwa International Maritime Organization (IMO) telah menyusun kerangka kerja teknologi MASS dalam empat tingkat kemajuan, yakni:
•Tingkat 1: Otomasi proses dan dukungan pengambilan keputusan di atas kapal. Sistem otomatis membantu pelaut dalam mengoperasikan kapal, namun kru tetap berada di atas kapal untuk mengendalikan fungsi secara manual bila dibutuhkan;
•Tingkat 2: Pengendalian kapal jarak jauh dengan pelaut di atas kapal. Operasi dikendalikan dari lokasi lain, namun pelaut tetap berada di kapal sebagai pengawas;
BACA JUGA: Dispora Kaltim Ikuti Instruksi Gubernur, GOR Sempaja Buka 24 Jam