Bahkan pelaku sempat memperkosa anak tertua keluarga tersebut atau pacarnya.
"Setelah itu mau pergi, Waluyo masih tampak hidup lalu dihabisi lagi," kata sumber di Kepolisian.
Petugas saat ini masih menunggu hasil otopsi yang dilakukan pihak RSUD Penajam Paser Utara.
Untuk mengamankan tempat kejadian perkara, warga bersama anggota TNI/Polri berjaga di rumah tapak milik korban yang sudah dipasang garis polisi.
Saksi Bisu - Rumah keluarga korban pembunuhan di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Penajam Paser Utara, Kaltim.-(Disway/ Istimewa)-
Tinjauan Psikologis
Dirangkum dari berbagai sumber, perilaku membunuh orang lain disebabkan oleh banyak faktor yang sangat kompleks yang saling berkaitan satu sama lain.
Berikut adalah beberapa faktor yang sering kali dibahas dalam konteks ini:
1. Gangguan Mental: Salah satu faktor yang sering dikaitkan dengan perilaku membunuh adalah gangguan mental seperti gangguan kepribadian antisosial, gangguan psikotik, atau gangguan mood yang parah. Individu dengan gangguan ini mungkin memiliki kurangnya empati atau rasa bersalah yang memungkinkan mereka melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain tanpa merasa bersalah.
2. Trauma dan Pengalaman Masa Lalu: Trauma masa lalu, termasuk pelecehan, kekerasan, atau pengalaman traumatis lainnya, dapat memengaruhi perkembangan psikologis seseorang dan meningkatkan risiko perilaku kekerasan di masa dewasa.
Pengalaman masa lalu yang traumatis juga dapat memicu stres, kemarahan, atau rasa sakit yang dalam, yang mungkin menyebabkan seseorang bereaksi secara impulsif atau agresif.
3. Kondisi Sosial dan Lingkungan: Faktor-faktor sosial dan lingkungan juga dapat berkontribusi terhadap perilaku kekerasan, termasuk kemiskinan, ketidakstabilan keluarga, atau eksposur terhadap kekerasan di lingkungan sekitar. Lingkungan yang keras atau pengalaman ketidakadilan sosial dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terlibat dalam perilaku kekerasan.
4. Konteks Situasional: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa keputusan untuk melakukan tindakan kekerasan sering kali dipengaruhi oleh konteks situasional, seperti tekanan kelompok, pengaruh alkohol atau obat-obatan, atau konflik interpersonal yang intens. Faktor-faktor ini dapat mengganggu pemikiran rasional dan mengarah pada tindakan impulsif atau agresif.
5. Kecenderungan Kepribadian: Beberapa individu mungkin memiliki kecenderungan bawaan untuk perilaku agresif atau antisosial, yang dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, pola asuh, atau lingkungan sejak masa kanak-kanak. Kecenderungan ini dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap perilaku kekerasan di kemudian hari.
6. Stigmatisasi dan Diskriminasi: Terkadang, stigmatisasi atau diskriminasi terhadap kelompok tertentu dapat memicu ketegangan atau konflik yang berujung pada tindakan kekerasan. Pengalaman merasa dihina atau diabaikan dapat memicu emosi negatif yang memengaruhi perilaku seseorang.
Penting untuk diingat bahwa setiap kasus perilaku kekerasan adalah unik dan dapat melibatkan kombinasi faktor-faktor yang berbeda.