Hilirisasi Sektor Perkebunan Kelapa Sawit di Berau Makin Menguat
Hilirasi sektor perkebunan kelapa sawit di Berau makin menguat.-istimewa-

BERAU, NOMORSATUKALTIM - Dinas Perkebunan Berau mencatat sepanjang tahun 2024, sektor perkebunan memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah, yakni sebesar 7,66 persen.
Angka ini menjadi bagian penting dari total kontribusi sektor pertanian yang mencapai 13 persen terhadap PDRB.
Kepala Dinas Perkebunan Berau, Lita Handini menyebut, pertumbuhan sektor perkebunan didorong oleh kenaikan produksi serta lonjakan harga komoditas kelapa sawit, yang mencatat performa kuat di pasar nasional maupun global.
"Kenaikan produksi dan harga komoditas berdampak langsung terhadap kontribusi pajak serta bagi hasil. Itu yang mendongkrak angka PDRB dari sektor perkebunan," kata Lita, Sabtu 19 Juli 2025.
Meski pertambangan masih mendominasi struktur ekonomi Berau dengan sumbangan nyaris 60 persen dari total PDRB, Lita optimistis bahwa perkebunan, khususnya kelapa sawit, dapat menjadi sektor penyeimbang dalam jangka panjang.
"Perkebunan ini sifatnya lebih berkelanjutan dan menyerap banyak tenaga kerja. Ini bisa jadi fondasi ekonomi kita di masa depan," ucapnya.
Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, isu lingkungan tetap menjadi perhatian. Menurutnya, pembukaan lahan sawit kerap dikaitkan dengan kerusakan ekologis.
Meski begitu, dampak dari perkebunan relatif lebih mudah dipulihkan dibanding sektor ekstraktif seperti tambang.
"Kalau sawit, 2 sampai 3 tahun saja sudah tertutup vegetasi lagi. Jadi lebih cepat pulih," tuturnya.
Lita menjelaskan, bahwa karakteristik tanaman sawit justru memberi manfaat ekologis, terutama dalam hal pengelolaan air.
Akar serabut sawit yang tumbuh dalam membantu menyerap air secara efektif, sehingga mengurangi risiko banjir dan menjaga keseimbangan air tanah.
"Pohon sawit itu mampu menyerap air tinggi. Saat lahan sudah tertutup, air hujan bisa langsung masuk ke tanah tanpa menimbulkan genangan," jelasnya.
Selain itu, ia juga mengaskan pentingnya menjaga kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV).
Wilayah-wilayah dengan tutupan hutan alami dan menjadi habitat satwa liar harus dilindungi dari perluasan perkebunan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

