Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,39 Persen pada Akhir 2025, Pengamat Ingatkan Risiko Tersembunyi
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,39 Persen pada Akhir 2025, Pengamat Ingatkan Risiko Tersembunyi.-istimewa-
NOMORSATUKALTIM - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia pada triwulan IV 2025 tumbuh sebesar 5,39 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan akselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh 5,04 persen (yoy), meski kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menyebut capaian tersebut menegaskan bahwa kinerja ekonomi nasional sepanjang 2025 berada pada tren positif.
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat 5,11 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 5,03 persen (yoy).
Menurut Ramdan, kinerja tersebut menjadi modal penting untuk menghadapi tahun berikutnya. Bank Indonesia pun optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 dapat berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7 persen (yoy), dengan dukungan peningkatan permintaan domestik serta efektivitas bauran kebijakan fiskal dan moneter.
BACA JUGA:Perkuat Fondasi Klub, Liverpool Rekrut Laurens Paulussen dari KV Mechelen
“Dalam kaitan ini, Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat bauran kebijakan yang diarahkan guna mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan tetap menjaga stabilitas,” ujar Ramdan.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai angka pertumbuhan tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya tolok ukur keberhasilan ekonomi nasional.
Pasalnya, peningkatan pertumbuhan belum tentu sejalan dengan menguatnya optimisme publik maupun perbaikan kondisi ekonomi masyarakat secara luas.
Dilansir dari Disway.id, Ekonom sekaligus Dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai capaian pertumbuhan 5,39 persen justru menyimpan pesan ganda. Di satu sisi, ekonomi Indonesia dinilai masih bergerak dan terhindar dari perlambatan tajam.
Namun di sisi lain, capaian tersebut belum mencerminkan lompatan besar sebagaimana kerap digaungkan dalam narasi pembangunan.
BACA JUGA:Tidak Ingin Kejadian Anak Bunuh Diri di NTT Terjadi, Ini yang Dilakukan Pemkot Bontang
“Indonesia memang tidak sedang jatuh. Tetapi capaian ini juga belum sejalan dengan ekspektasi pertumbuhan tinggi yang sering dijanjikan sebagai tanda hadirnya ‘mesin baru’ ekonomi,” ujar Achmad.
Lebih lanjut, Achmad menyoroti dua persoalan mendasar yang kerap luput dari perdebatan publik.
Pertama, masih kuatnya konflik kepentingan yang membuat belanja negara dan kebijakan ekonomi tidak selalu diarahkan pada sektor paling produktif bagi pertumbuhan jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

