Tarif Air Berau Terancam Naik, Perumdam Batiwakkal Hadapi Risiko Diambil Alih Provinsi
Kepala Bagian Hubungan Langganan Perumdam Batiwakkal, Rudy Hartono.-(Disway Kaltim/ Azwini)-
BERAU, NOMORSATUKALTIM – Status Kabupaten Berau sebagai daerah dengan tarif air minum termurah di Kalimantan Timur (Kaltim) terancam bakal berakhir.
Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Batiwakkal menegaskan bakal melakukan penyesuaian tarif air minum.
Meski belum menetapkan waktu penerapan, kebijakan tersebut disebut sebagai langkah yang tidak bisa dihindari demi menjaga keberlangsungan operasional perusahaan daerah itu.
Direktur Perumdam Batiwakkal, Saipul Rahman melalui Kepala Bagian Hubungan Langganan, Rudy Hartono, mengatakan bahwa tanpa penyesuaian tarif, posisi Perumdam Batiwakkal justru berada dalam kondisi rawan.
BACA JUGA: Batal Naik, Tarif Air Bersih di Berau Kembali ke Tarif Awal
BACA JUGA: Unjuk Rasa Tolak Kenaikan Tarif Air PDAM di Berau, Massa Aksi: ‘Mundur Dari Dirut PDAM’
Salah satu risikonya adalah potensi pengambilalihan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim).
“Kalau tidak ada penyesuaian tarif, Perumdam berpotensi diambil alih provinsi dan statusnya berubah menjadi BLUD. Bahkan bisa digabung dengan daerah lain,” ujar Rudy, Selasa 10 Februari 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut justru berpeluang memberatkan masyarakat. Penggabungan dengan daerah lain, seperti Kutai Timur, dikhawatirkan akan membuat tarif air minum di Berau melonjak lebih tinggi dibandingkan tarif yang berlaku selama ini.
“Saat ini tarif air di Berau sekitar Rp4.700 per meter kubik, paling murah di Kaltim. Sementara di Kutim jauh lebih mahal,” katanya.
BACA JUGA: Warga Berau Protes Kenaikan Tarif Air Bersih, PDAM Sebut untuk Hindari Kerugian
BACA JUGA: Krisis Air Bersih Bayangi Warga Maratua, 2 Kampung Masih Andalkan Air Hujan
Ironisnya, tarif yang rendah itu tidak sebanding dengan biaya produksi. Rudy menyebut biaya produksi air minum di Berau mencapai sekitar Rp 4.900 per meter kubik, lebih tinggi dari tarif yang dibebankan kepada pelanggan.
Kondisi tersebut membuat Perumdam Batiwakkal terus mengalami defisit. Selama ini, kata Rudy, kekurangan biaya operasional ditutup melalui pendapatan dari pemasangan sambungan rumah baru.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

