Kenaikan UMK Balikpapan Diprediksi Dongkrak Konsumsi Rumah Tangga, BI Tegaskan Inflasi Tetap Terkendali
Kepala BI Perwakilan Balikpapan, Robi Ariadi-Chandra/ Nomorsatukaltim-
BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Balikpapan menilai kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) memberikan dorongan positif terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Balikpapan, khususnya melalui peningkatan daya beli masyarakat.
Meski demikian, kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tidak sebesar sektor investasi yang masih mendominasi struktur perekonomian kota ini.
Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi menjelaskan bahwa pada Triwulan III-2025, ekonomi Balikpapan didominasi oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi sebesar 31,82 persen, diikuti konsumsi rumah tangga 21,92 persen, serta konsumsi pemerintah 3,59 persen. Data ini merujuk pada informasi terkini dari Badan Pusat Statistik (BPS).
"Dengan struktur tersebut, kenaikan UMK terutama akan berdampak melalui peningkatan konsumsi rumah tangga, meskipun kontribusinya terhadap total PDRB tidak sebesar PMTB," ujar Robi Ariadi kepada Nomorsatukaltim, Selasa, 30 Desember 2025.
BACA JUGA: Kenaikan UMK Tambah Beban Biaya Usaha, HIPMI Balikpapan: Upah dan Produktivitas Harus Selaras
Menurutnya, dalam jangka pendek, peningkatan daya beli pekerja dapat menjaga momentum sektor perdagangan dan jasa.
Namun dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi Balikpapan akan lebih ditentukan oleh kelanjutan investasi dan aktivitas pembentukan modal, khususnya yang terkait dengan konstruksi, industri penunjang, dan jasa bernilai tambah.
BI Balikpapan memandang bahwa kenaikan UMK perlu berjalan beriringan dengan iklim investasi yang kondusif.
Hal ini agar dorongan konsumsi dari sisi upah dapat memperkuat, bukan menggantikan, peran investasi sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi Balikpapan.
BACA JUGA: UMK Balikpapan 2026 Naik Menjadi Rp3,85 Juta, 2 Sektor Industri Diusulkan Dapat Upah Lebih Tinggi
Terkait keselarasan kenaikan UMK dengan produktivitas dan daya saing tenaga kerja, Robi Ariadi menegaskan bahwa kenaikan UMK idealnya selalu berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas.
Adapun di konteks Balikpapan, struktur tenaga kerja cukup beragam, mulai dari sektor jasa, perdagangan, hingga industri penunjang migas dan konstruksi.
"Tantangan utama bukan hanya tentang tingkat upah, tetapi kesenjangan keterampilan (skill mismatch)," jelasnya.
Oleh karena itu, kata Robi, kenaikan UMK akan lebih berkelanjutan jika dibersamai dengan beberapa upaya strategis.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

