Bankaltimtara

Keraton Sambaliung: Menjaga Nafas Kerajaan di Tengah Arus Modernisasi

Keraton Sambaliung: Menjaga Nafas Kerajaan di Tengah Arus Modernisasi

Keraton Sambaliung, Kecamatan Sambaling Kabupaten Berau.-Maulidia Azwini/ Nomorsatukaltim-

BERAU, NOMORSATUKALTIM – Kabupaten Berau tidak hanya dikenal dengan kekayaan alam dan wisata baharinya. Di tengah derasnya arus modernisasi, daerah ini juga menyimpan nafas peradaban masa lalu yang masih terus dilestarikan.

Sebuah bangunan bersejarah berdiri di tepian Sungai Kelay, Kecamatan Sambaliung. Itulah Keraton Sambaliung, istanan megah peninggalan Kesultanan Sambaliung yang dulunya menjadi pusat pemerintahan yang berdiri tegak menantang zaman.

“Kerajaan Berau berdiri sejak tahun 1377. Kemudian pada tahun 1810 pecah menjadi dua wilayah  Kesultanan Sambaliung dan Gunung Tabur,” tutur Inda Pangian, pengelola Keraton Sambaliung.

Pembangunan Keraton Sambaliung dimulai pada tahun 1881 dan rampung sekitar 1930-an, di masa pemerintahan Sultan Muhammad Aminuddin.

BACA JUGA: Pagelaran Budaya di Berau Didorong Masuk Dalam Kharisma Event Nusantara

Meski telah berusia ratusan tahun, keraton ini bukan sekadar saksi sejarah, tapi juga napas terakhir kejayaan masa lalu yang terus berusaha bertahan di tengah gempuran modernisasi.

Sejak 1999, istana yang dulu menjadi pusat kuasa dan peradaban itu resmi dialihfungsikan menjadi museum.

Keputusan ini lahir dari kesepakatan para ahli waris, bukan untuk meninggalkan sejarah, tetapi justru sebagai upaya merawatnya agar tetap hidup dan dikenang.

“Waktu itu para pewaris sudah sepuh, lemah secara fisik maupun finansial. Mereka khawatir kalau tidak dikelola dengan baik, keraton akan rusak. Maka disepakati dijadikan museum,” terang Inda.

BACA JUGA: Bekudung Batiung, Ajang Tahunan untuk Pertahankan Tradisi Adat Budaya Asli Berau

Kini, bangunan berarsitektur khas Melayu, Bugis, dan China itu telah difungsikan sebagai pusat edukasi budaya. Warna hijau dan kuning mendominasi, dengan kayu ulin sebagai material utama.

Di dalamnya, terdapat 13 ruangan, mulai dari ruang resepsi, kamar pribadi raja, ruang juru tulis, hingga ruang meditasi untuk bertapa.

Di tengah zaman yang semakin modern, keberadaan Keraton Sambaliung justru terasa makin penting. Bukan hanya karena nilai sejarahnya, tapi karena ruang pengingat jati diri dan pusat edukasi budaya agar masyarakat mengenal kembali identitas dan budaya yang mulai terlupakan.

“Sekarang ini banyak anak-anak kehilangan etika, kehilangan adab, museum ini bisa jadi tempat belajar. Semua ilmu ada di sini. Kalau mau tahu soal budaya, komunikasi zaman dulu, semuanya tersimpan di sini,” ujar inda.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: