Bubur Peca "Obat panjang Umur" Jadi Magnet Warga hingga Luar Kota
Bubur Peca yang disajikan kepada para jamaah Masjid Shiratal Mustaqiem, dianggap tradisi selama 100 Tahun di Samarinda yang hanya hadir saat Ramadan -Mayang Sari -
BACA JUGA: Hotel Midtown Samarinda Hadirkan Blessful Ramadan, Jelajah Kuliner Nusantara dalam Satu Meja
"Buatnya dari jam setengah delapan pagi sampai jam satu siang. Habis waktu Ashar ini sudah mulai isi-isi piring buat disajikan," kata Mardiana.
Sembari mengaduk bubur di dalam kuali besar, Mardiana menjelaskan, sekitar 50 kilogram beras diolah. bahkan bisa mencapai dua karung dalam sehari.
"Sehari itu bisa sampai dua karung, kurang lebih 50 kilogram beras yang dimasak. Kalau jamaah banyak atau ada rombongan yang datang, bisa tambah lagi," imbuhnya.
Dari jumlah itu, sekitar 300 porsi disajikan untuk jamaah berbuka di masjid, dan 200 porsi lainnya dibagikan kepada masyarakat sekitar.
BACA JUGA: Distribusi MBG di Balikpapan Selama Ramadan Masih Menunggu Arahan Teknis
Mardiana bilang, Resep rahasia bubur peca terletak pada racikan rempah. Tak hanya memberikan aromatik yang kuat, tetapi juga cita rasa yang gurih.
Racikan bumbu itu terdiri dari Bawang merah, bawang putih, jahe, kayu manis, pala, kunyit, dan santan.
Serta ayam suwir yang menjadi komposisi utama. Semua bumbu digiling segar sebelum dicampurkan ke dalam rebusan.
"Airnya direbus dulu, lalu kayu manis dan pala dimasukkan. Setelah mendidih baru beras. Santan terakhir, masaknya hampir satu jam," jelas Mardiana.
BACA JUGA: Mengenal Hikmah Dibalik Disyariatkannya Bulan Puasa
Takaran bumbu sudah melekat di ingatan. Untuk setiap lima kilogram beras, ia hafal berapa sendok garam dan bumbu yang harus digunakan.
Bubur peca pun dikenal bercita rasa gurih dan asin, tidak pernah dibuat manis.
"Kalau manis itu lain lagi. Ini memang dari dulu gurih dan asin,"tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
